Oleh: adul | 5 Juli 2008

Upaya Realisasi Pajak Bagi Hasil dari Chevron Terbentur Undang-Undang

Kepala Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kabupaten Bogor Rahmat Surjana membantah sinyalemen kalangan anggota Komisi B DPRD setempat tentang menguapnya dana ratusan milyar dari pajak bagi hasil energi panas bumi dari PT Chevron Geothermal, perusahaan Amerika pengelola usaha panas bumi di kawasan Gunung Salak. Menurutnya, daerah Kabupaten Bogor tidak menerima pajak bagi hasil dari pengelolaan panas bumi sebesar 32 persen sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Undang-Undang 27 Tahun 2003 Tentang Pengelolaan Panas Bumi, karena terhalang oleh Pasal 41 pada UU 27/2003 itu sendiri.

“Dalam pasal 41 UU nomor 27/2003 disebutkan bahwa semua kontrak kerjasama pengusahaan sumber daya energi panas bumi yang telah ada sebelumnya berlaku UU ini dinyatakan tetap berlaku. Nah, dalam hal pajak bagi hasil PT. Chevron ini, mereka terlindungi oleh Pasal 41, sehingga Chevron tetap membayar pajak sebesar 34 persen dari Net Operation Income (pendapatan bersih usaha) sesuai dengan isi kontrak kerja sama yang tertuang dalam Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 22/1982 tentang Pengelolaan Area Panas Bumi dan Kepres 49/1991 tentang MOU Pertamina dan Chevron,” papar Rahmat kepada bogorOnline, Jumat (5/6).

Dikatakan olehnya, jika mengacu pada Undang-Undang Nomor 27/2003 tentang pengelolaan panas bumi, pembagian pajak bagi hasil dari sektor panas bumi ini ialah 32 persen untuk seluruh Kabupaten/Kota yang ada di Jawa Barat, 16 persen untuk provinsi dan 20 persen untuk pusat. “Tapi nyatanya, hingga kini PT Chevron hanya menyetor ke pemerintah pusat sebesar 34% dari NOI. Lalu dana 34 persen itu oleh pusat dibagi-bagi ke Kabupaten Bogor dan sejumlah daerah Kabupaten lainnya. Kita memang inginnya dapat hasil pajak sebesar 32 persen, tetapi apa daya kita terkendala oleh aturan, yaitu Pasal 41 UU 27 tadi,” katanya.

Walau demikian, tambahnya lagi, berkat kegigihan Pemkab dan jajaran Dispenda, mulai tahun 2005 ada pemasukan untuk Kabupaten Bogor meski hanya berasal dari Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang diambil dari pengelolaan area, uap, produksi dan listrik. “Tahun 2008 ini kita menerima dari PBB PT Chevron sebesar Rp 16,8 miliar. Itu pun berkat upaya kita dalam mencari celah agar eksplorasi panas bumi di Pamijahan ada peningkatan nilai dari sebelumnya hanya Rp5,5 miliar (2005), Rp6,6 miliar (2006), Rp5,9 miliar (2007),” jelasnya.

Dijelaskannya lebih lanjut, Chevron mendapatkan keuntungan bersih dari ekplorasi panas bumi sebesar USD 69 juta. Lalu dari jumlah sebesar itu sebanyak 34 persennya disetorkan ke pemerintah pusat, Untuk itu, ujarnya lagi, jika ingin mendapatkan 80 persen yang dalam hal ini aturan pembagiannya 16 persen untuk provinsi, 32 persen untuk Kabupaten Bogor, 32 persen untuk Kabupaten/Kota di Jawa Barat, maka harus ada revisi Pasal 41 UU Nomor 27/2003. “Bagi hasil persentase tersebut juga bisa dilakukan jika ada perjanjian kontrak baru,” ujarnya.

Community Relation PT Chevron Geothermal Salak Ltd, Iwan Azof  enggan berkomentar banyak terkait pajak bagi hasil tersebut. Alasanya itu menyangkut kode etik bisnis. “Pastinya kita sudah membayar kewajiban sesuai ketentuan, mengenai besaranya berapa silahkan tanyakan ke pemerintah pusat,” jelasnya seraya mengatakan masuk dalam arena konfik antara anak dan bapak (Pemkab-Pemerintah Pusat-red).

Lebih lanjut ia menjelaskan lokasi pengeboran panas bumi salak tersebut berada di 2 daerah yakni Kecamatan Pamijahan Kabupaten Bogor dan sebagian lagi berada diwilayah Kabupaten Sukabumi. Sumur tersebut sebanyak 80 sumur, 47 sumur ada di Kabupaten Bogor dan 33 sumur berada diwilayah Kabupaten Sukabumi, dengan total produksi pertahun sebesar 377 WM.

“Namun jumlah sumur lebih banyak diwilayah Kecamatan Kabupaten Bogor yakni sebanyak 47 sumur namun kapasitas produksinya hanya sebesar 162 MW, sedangkan di Kabupaten Sukabumi meskipun hanya sebanyak 33 sumur, namun kapasitas produksinya mencapai 195 MW. “Selain itu bedanya untuk diwilayah Pamijahan ini kita hanya menjual gas saja ke pertamina melalui PT Indonesian Power, sedangkan diwilayah sukabumi Chevron punya pembangkit sendiri,” tandasnya kepada wartawan. (KY)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: