Oleh: adul | 13 Mei 2008

Cibitung Tengah – Tenjolaya – Bogor

Kondisi Objektif Desa Cibitung Tengah

Secara geografis, letak Desa Cibitung Tengah berada di Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat (Jabar). Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Cinangneng sebelah Selatan dengan Desa Tapos II, sebelah Barat dengan Desa Ciampea Udik dan sebelah Timur dengan Desa Situ Daun.

Sebagai perbatasan dengan desa lain, desa Cibitung Tengah diapit oleh beberapa arus sungai sekaligus perbatasan desa. Di sebelah Barat sungai Ciampea dengan desa Ciampea Udik, di sebelah Timur dibatasi sungai Cinangneng dengan Desa Situ Daun.

Desa Cibitung Tengah memiliki luas areal ± 1,047 ha. 176 ha. (36 %) untuk areal persawahan, 671 ha. (64 %) berupa daratan terdiri atas 523 ha. berupa perkebunan dan sisanya 148 ha. berupa perkampungan, tanah perkebunan, sarana sosial, jalan dan lain-lain.

Desa Cibitung Tengah mempunyai Rw. (Rukun Warga) sebanyak 5 RW dari jumlah RT (Rukun Tetangga) sebanyak 22 Rt dengan kapasitas penduduk 7.389 jiwa. Penduduk desa Cibitung Tengah sebahagian besar bermata pencaharian sebagai petani yaitu 1920 orang, Pegawai Negeri Sipil 240 orang, karyawan 252 orang, buruh 1440 orang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel berikut ini.

Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Mata Pencaharian

No. Jenis Pekerjaan Jumlah Keterangan
1 Petani 1920 Orang
2 Buruh 1440 Orang
3 PNS 240 Orang
4 Karyawan 252 Orang
5 Wiraswasta 480 Orang
Total 7.389 Jiwa Penduduk Pendatang, Fertilitas dan Mortalitas belum terhitung

Sumber: Kantor Desa Cibitung Tengah Hasil Sensus Pemerintahan Tahun 2001

Kepadatan penduduk yang dialami masyarakat desa Cibitung Tengah secara sosiologis dan antropologis memiliki dua keuntungan. Di satu sisi, secara potensial kemanusiawian akan menghasilkan beberapa cipta, karya dan karsa yang beraneka ragam tergantung pada sumber daya dari diri masing-masing individu. Keaneka-ragaman potensi serta hasil dari proses eksplorasi akan membawa dampak yang besar bagi perkembangan sistem kemasyarakatan secara pesat.

Di sisi lain, penduduk juga memiliki potensi besar terhadap terjadinya permasalahan, termasuk di dalam ketegangan sosial, kecemburuan sosial, politik, ekonomi dan pendidikan. Beberapa macam kecemburuan bisa muncul sebagai permasalahan, di antaranya adalah ras aman (secara luas). Walau pun bagi masyarakat setempat rasa itu tidak pernah menjadi kendala, tapi sering kali menjadi ancaman bagi msyarakat sekitar desa Cibitung Tengah, sebagaimana pernah dituturkan beberapa warga setempat.

Dilihat dari jumlah jenis mata pencaharian, ternyata masyarakat Desa Cibitung Tengah banyak bekerja sebagai petani, sementara tanah yang banyak mereka garap adalah areal ladang pesawahan. Aliran kali Cinangneng dan Ciampea telah banyak membantu masyarakat Desa Cibitung Tengah dalam bercocok tanam meskipun areal persawahan mampu ditanami padi maksimal 3 kali dalam satu tahun. Namun, kegiatan pertanian tidak menjadi tujuan pokok para petani dan hasilnya sering tidak memuaskan. Hal itu disebabkan beberapa faktor antara lain:

  1. Ketidak-mampuan petani mengusir hama wereng
  2. Ketidak-seimbangan harga obat-obatan dengan harga penjualan gabah atau beras
  3. Terganggunya pengairan, terutama disepanjang aliran sungai Ciampea yang sampai saat ini masih berlangsungnya kegiatan penggalian batu, split dan pasir sampai ke dasarnya, sehingga banyak lahan pertanian yang mengantung tidak terairi
  4. Minimnya sumber daya petani terutama di bidang pertanian.

Kondisi itu menyebabkan pekerjaan sebagai petani khususnya warga Cibitung Tengah tidak dijadikan sebagai tujuan pokok, sehingga para petani banyak menjual lahan pertaniannya kepada orang lain guna dijadikan sebagai modal usaha. Singkatnya, kondisi objektif masyarakat desa Cibitung Tengah ditinjau dari segi geografis maupun perekonomiannya sebagai salah satu desa di Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor dapat dikatakan stabil.

Adafun fasilitas yang ada di Desa Cibitung Tengah antara lain:

Fasilitas Pendidikan

4 (empat) buah Taman Kanak-kanak (TK) dan Beberapa Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA)

4 (empat) buah Sekolah Dasar (SD)

6 (enam) buah Madrasah Ibtidaiyah (MI)

2 (dua) buah Sekolah Lanjutan Pertama (SLTP)

1 (satu) buah Sekolah lanjutan atas (SLTA)

Pada sekitar paruh pertama tahun 2000-an, kalangan tokoh masyarakat yang memiliki basic pendidikan formal (sekolah) pernah menyelenggarakan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) dengan sumber pengajar dari kalangan kiyai dan sarjana yang terdapat di wilayah sekitar desa. Hal itu, telah memberikan sumbangan yang positif dalam pendidikan masyarakat terutama sangat membantu kalangan menengan ke bawah untuk mengenyam pendidikan lanjutan.

Kehadiran lembaga pendidikan itu telah membawa kaum pelajar dari kalangan sekolah dan pesantren (santri) dapat mengikuti kegiatan pembelajaran itu. Selain memberikan fasilitas biaya yang murah, lokasi lembaga pendidikan tinggi itu dapat terjangkau masyarakat tanpa memakan biaya transfortasi yang lebih tinggi.

Sarana Pengajian

Sarana pengajian di desa Cibitung Tengah telah ada di masing-masing tempat yang mereka kelola. Bahakan di desa Cibitung Tengah, sarana pengajian sudah menjadi suatu lembaga. Sekitar enam buah Pondok Pesantren dan lembaga pengajian sebagan dipimpin oleh salah seorang pengasuh (ulama setempat). Murid pondok pesantren bukan saja dari daerah asal, melainkan juga dari luar daerah seperti Jabotabek, bahkan luar Jawa.

Fasilitas Olah Raga

Dalam bidang olah raga, masyarakat desa Cibitung Tengah telah membentuk suatu klub di masing-masing Rt/kampung, di antaranya:

  • PORCIMA (Prsatuan Olah Raga Cibitung Maduhur), yang bertempat di Rt/Rw. 11/03 Kampung Cibitung Tengah sebelah Utara.
  • BERLAP (Persatuan Olah Raga Ember dan Lap), yang terdiri dari para pencuci mobil.
  • BSW (Babakan Sekar Wangi) yang beranggotakan dua klub, yaitu PS Sekar dan PS Wangi

Potensi Keagamaan

Potensi keagamaan masyarakat Cibitung Tengah dapat dikatakan cukup baik, meskipun sebagian masyarakat hanya pengakuannya saja. Kegiatan keagamaan masyarakt Cibitung Tengah ini sangat pesat jika dibandingkan dengan kegiatan-kegiatan di bidang lain.

Kegiatan keagamaan ini dapat terlihat misalnya dalam pengajian dan tamrinul khutbah atau da’watul Islamiyah. Para pemuka agama, khususnya pemrakarsa serangkaian program pembinaan remaja Islam masing-masing rukun kampung mengadakan suatu organisai yang bernafaskan Islam, seperti organisasi (Himpunan Angkatan Muda Dakwah Islam (HAMDI ), IRMACI dan sebagainya.

Bahkan, pada tahun 2006, para pemuda Cibitung Tengah mengadakan suatu rangkaian kegiatan untuk menghidupkan kegiatan keagamaan melalui pengajian tingkat desa. Kegiatan-kegiatan dakwah yang terjadi di desa Cibitung Tengah telah semarak serta terpadu dengan pembangunan masyarakat, sehingga dengan kegiatan dakwah itu sinar Islam dapat terpancar. Setiap insan berbondong-bondong menyongsong hikmahnya.

Banyak sudah muallaf di desa ini meraskan nilai-nilai da’wah yang bermanfaat bagi segenap masyarakat, baik berupa suasana kekeluargaan yang Islami, kualitas kerja mau pun sikap ajak-an yang mengesankan. Di desa ini, para muallaf mendapatkan pembinaan khusus. Bahkan, jika di antara mereka hendak berkeinginan menanyakan permasalahan yang berkaitan dengan hukum, maka para pembimbing para pembimbing tidak segan-segan menjawab setiap pertanyaan yang mereka ajukan.

Oleh karena itu, dalam kegiatan keagamaan perlu mendapatkan perhatian khusus dari penghidmah da’wah agar proyeksi masa depan umat Islam dapat tercapai.

Potensi Ekonomi

Ekonomi merupakan unsur yang penting dalam kehidupan masyarakat. Kondisi ini, kiranya juga telah menyadarkan masyarakat masyarakat desa Cibitung Tengah untuk mencari nafkah demi keluarga, anak dan isterinya. Kebanyakan masyarakat desa Cibitung Tengah bermata-pencaharian sebagai petani.

Di antara mereka ada yang memiliki ladang, tapi ada pula yang hanya pekuli saja (buruh tani). Lain halnya dengan masyarakat desa Cibitung Tengah bagian Barat, mereka banyak yang berpencaharian sebagai sopir, karena kebanyakan di antara mereka memiliki kendaraan (angkutan pedesaan), tapi sebagian ada juga yang hidupnya menjadi petani.

Di Cibitung bagian Selatan, tepatnya yang terletak tidak jauh dari kaki Gunung Salak, mayoritas mata pencaharian mereka sebagai tukang tembok (bangunan). Alasannya, karena dahulu orang tua mereka sebagai tukang tembok, karena itu tidak heran jika anak cucu mereka menjadi tukang tembok. meskipun demikian, sebagian kecil di antara mereka bermata pencaharian sebagai petani. Berbeda dengan warga Cibitung Kaum, kebanyakan mereka lebih memilih sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Hal itu dikarenakan, sejak dulu, Cibitung Kaum memang pernah menjadi pusat pendidikan dan penyiaran agama Islam. Tapi, ada juga di antara mereka memilih menjadi sebagai sopir dan petani. Begitulah kehidupan manusia yang serba-serbi dan aneh-aneh. Layaknya dalam perekonomian, pasar merupakan tempat manusia menunaikan transaksi perdagangan (jual beli) dalam jumlah yang lebih besar, karena di dalam pasar berbagai macam barang dapat diperjual-belikan.

Sejak lama, masyarakat Cibitung Tengah telah memiliki dan membentuk lemabaga perdagangan ini melalui “pasar harian” yang sering masyarakat sebut sebagai Pasar Jum’at. Semula pasar Jum’at beroperasi tiap hari jum’at, tapi seiring tuntutan kebutuhan masyarakat yang setiap saat menghendaki perubahan khususnya dalam bidang ekonomi, Pasar Jum’at mengalami perubahan baik secara material bangunan fisiknya maupun pengunjungnya yang setiap saat bertambah dan berkembang.

Kini, Pasar Ju’mat telah beroperasi setip hari, sehingga warga sekitar khususnya dapat melakukan aktifitas perekonomian di pasar tersebut. Meski lokasi Pasar Jum’at berada di tengah-tengah perkampungan warga setempat, pasar tradisional itu cukup besar layaknya pasar-pasar tradisional di perkotaan.

Potensi Sosial dan Budaya

Dilihat dari keadaan sosialnya, kehidupan masyarakat desa Cibitung Tengah sangat rukun dan damai. Bahkan, apabila di antara rukun kampung misalnya sedang mengadakan pemembangunan masjid, masyarakat warga sekitar hidup dalam keadaan saling berkaitan, kerja sama dan saling tolong di kehidupan sosial. Tidak hanya itu, dalam pembangunan jalan warga sering melakukannya secara gotong royong.

Di bidang kebudayaan, masyarakat membentuk beberapa seni budaya. Dalam bidang kesenian, masing-masing warga mempunyai group kesenian seperti qasidah (yang paling membudaya di daerah tersebut). Di kalangan pengajian atau pesantren kesenian budaya ini dapat terlihat seperti:

Group Qasidah Al-Hikmah di Rt/Rw 11/03

Group Qasidah Ar-Rahmah di Rt. 08

Group Qasidah Al-Ghazali di Rt. 12

Group Qasidah Nurul Anwar, bertempat di Ponpes Nurul Anwar Rt. 12, dan group qasidah lainnya.

Dalam seni bela diri, masyarakat desa Cibitung Tengah mempunyai keyakinan masing-masing, di antaranya menganut bela diri Cimande, ilmu kesucian Al-Hikmah, dan kesenian bela diri lainnya. Tapi, mereka hidup secara rukun, damai dan saling penuh pengertian walau pun di antara mereka berlainan aliran dalam bidang seni bela diri.

~ by Najmu on November 20, 2007.


Responses

  1. ya dong …..itukan kota kelahiran ku tpi sahang jalan yg ada di desa cbitung masih rusak mungkin krn kurangnya perhatian dri aprat pemerintahan setempat


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: