Oleh: adul | 25 Agustus 2007

Sutiyoso Diminta Stop Bangun Situ Buatan

 18villa11.gif

Areal pembangunan situ di halaman vila yang disebut-sebut milik Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, di Desa Tapos I, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Gambar diambil Kamis (18/5). [Pembaruan/Alex Suban]

 

[BOGOR] Ketua DPRD Kabupaten Bogor Rahmat Yasin meminta Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menghormati kebijakan pemerintah kabupaten itu, untuk menyetop pembangunan situ atau danau buatan di Kampung Sinarwangi, Desa Tapos I, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Apalagi pembangunannya sama sekali tidak ada izin dari pemerintah setempat.

“Kami meminta saudara Sutiyoso menghentikan rencana pembangunan semacam bendungan. Selain belum memiliki izin, masyarakat juga mengeluh karena sumber airnya menjadi kotor,” kata Rahmat di Bogor, Rabu (17/5).

Di tempat terpisah Gubernur DKI Sutiyoso membenarkan memiliki lahan di desa itu. Soal pembangunan danau buatan, dia pun mengakuinya, tapi menjelaskan bahwa yang dibangun adalah kolam ikan. (baca boks)

Rahmat mengemukakan, masyarakat setempat mengeluh menyusul pembangunan situ di Desa Tapos dalam lahan yang dimili- ki Sutiyoso. Karena itu, DPRD Kabupaten Bogor sudah menugaskan Komisi A untuk meninjau lokasi.

Bahkan komisi itu memperoleh keterangan dari warga sekitar bahwa di lahan milik Sutiyoso akan dibuat semacam bendungan. “Saya mendapat laporan dari masyarakat melalui Komisi A, bahwa di atas tanah yang luasnya puluhan hektare akan dibangun bendungan,” tutur Rahmat.

Dia mengingatkan, untuk membuat bendungan harus ada izin amdal (analisa mengenai dampak lingkungan). Selain itu wajib mempertimbangkan aspek lainnya karena posisi lahan yang sedang dikeruk berada di atas permukiman pen- duduk.

Wakil rakyat itu khawatir jika nantinya bendungan tersebut jebol akan membahayakan penduduk di sekitarnya.

17 Hektare

Di tempat terpisah, Kepala Desa Tapos I HM Ishak menyebutkan, tanah atas nama keluarga Sutiyoso seluas 170.000 meter persegi (17 hektare), termasuk di dalamnya lahan atas nama anaknya, Renny Yusnita Aryanti, seluas 23.290 meter persegi. “Tanah atas nama Renny sampai saat ini belum ada sertifikatnya karena masih diurus, yang ada keterangan jual beli diketahui desa,” ungkap Ishak.

Ini diperkuat dengan surat keterangan dari Desa Tapos I, yang dikeluarkan pada 13 Mei lalu, tetapi traksaksi pembeliannya sudah berlangsung sejak 2000.

Camat Tenjolaya Abdullah Sjirodj menambahkan, berdasarkan SPPT lahan keseluruhan bukan 49 hektare. “Setahu saya luasnya hanya 17 hektare, termasuk tanah atas nama Renny,” jelasnya.

Sementara itu, Sutikno yang mengaku masih kerabat Sutiyoso, menyebutkan, tidak ada proyek pembangunan bendungan atau situ, selain pembuatan kolam ikan.

Penduduk setempat memprotesnya karena air sungai yang biasa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mandi dan mencuci, kini menjadi kotor dan tidak layak untuk dipakai. Akibatnya, terpaksa warga setempat mencari sungai lain untuk keperluan sehari-hari.

Dari pengamatan Selasa, di bendungan tersebut sudah terbangun satu unit pintu air. Untuk mengaliri bendungan seluas satu hektare itu, aliran mata air Kali Cisadane dan Ciampea diarahkan ke situ. Fungsi pintu air untuk membuang kelebihan air bila bendungan tersebut kelak terbangun.

Kedalaman bendungan dan setu sudah mencapai sekitar 15 meter dari permukaan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: