Oleh: palemburan | 3 Februari 2009

2006-2009, Enam Peristiwa Hilangnya Pendaki Gunung

JAKARTA – Mendaki gunung menjadi kepuasan tak terhingga bagi yang memang beraktivitas sebagai pegiat alam. Kebanyakan penggemar hobi ini adalah mahasisiswa. Tercatat, sejak 2006 hingga 2009, enam kejadian pendaki hilang telah terjadi.

Pada 2006 tercatat dua orang mahasiswa hilang saat mendaki gunung. Yakni mahasiswa Universitas Parahyangan (Unpar), Bandung, bernama Vincen (21) dinyatakan hilang di pegunungan Argopuro, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Dia mendaki sejak 21 Januari 2006 dan 27 Januari 2006 ditemukan tas carier miliknya di daerah Cisentor, pegunungan Argopuro. Baca Lanjutannya…

Ketinggian Mencapai 70 meter, Pengunjung tak Boleh Berenang

Satu lagi potensi wisata di Desa Malasari Kecamatan Nanggung yang belum tergali. Curug Cifiit (Cipiit, red) adalah satu di antara enam curug kebanggaan warga Desa Malasari. Seperti apa?

Dari enam curug di Desa Malasari, Curug Cipiit merupakan salah satu curug yang potensial sebagai objek wisata andalan di Desa Malasari. Pemerintah desa pun terus membenahi serta mempromosikan curug tersebut agar semakin terkenal.

Salah satu upayanya adalah membuka akses jalan menuju curug yang berada di kawasan Taman Nasioanl Gunung Halimun Salak (TNGHS) ini. Untuk mencapai lokasi ini tidak mudah, seperti curug lainnya yang ada di Kabupaten Bogor.

Pengunjung harus menempuh perjalanan sekitar 3 kilometer dengan berjalan kaki dan menelusuri jalan setapak yang licin dan terjal dari hutan menuju Desa Malasari. Belum lagi sepanjang 5 kilometer perjalan yang harus ditempuh dari Desa Malasari. Tapi, perjalan ini tak sesulit ketika pengunjung mulai memasuki akses jalan menuju curug. Soalnya, pengunjung bisa menggunakan kendaraan bermotor dengan kondisi jalan yang beraspal dan mulus.

Yang paling membedakan, untuk mencapai Curug Cipiit pengunjung harus menuruni bukit yang memiliki kemiringan sekitar 45 derajat. Meski tidak menimbulkan lelah, kaki pasti terasa pegal dan gemetar karena menahan beban badan. Pengunjung  tetap harus berhati-hati, terlebih jalan setapak seluruhnya beralaskan tanah merah sehingga menambah licin jalan tersebut.

Mengantisipasi hal tersebut, pemerintah desa membuat jalur dengan membentuk tangga berpenahan bambu. Ini membuat kekhawatiran dan pertanyaan pengunjung, bagaimana caranya kembali setelah mencapai lokasi curug dengan jalan menanjak.

Mencapai Curug Cipiit cukup sulit, tapi begitu melihat curug yang memiliki ketinggian air terjun 70 meter ini, mampu menghilangkan pertanyaan dan kekhawatiran pengunjung dengan ketakjuban yang luar biasa. Air yang mengalir deras ini pun terlihat jernih tanpa terkontaminasi zat-zat berbahaya.

Ada satu yang harus diperhatikan dan ditaati seluruh pengunjung, yakni tak boleh berenang atau menyelam di pusat jatuhnya air terjun. Hingga saat ini pengelola dan penjaga curug belum mengetahui seberapa dalam tempat tersebut.

Pengunjung hanya diperkenankan mandi dan melakukan aktivitas di tempat lain yang kedalamannya diketahui. Selain itu, pengunjung juga harus berhati-hati saat menaiki batu-batu besar di sekitar curug. Selain licin, ketajaman batu menjadi ancaman terjadinya kecelakaan meskipun belum pernah terjadi hal seperti itu.

“Kami pun belum mengetahui berapa kedalaman tempat itu. Larangan ini dibuat untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan itu harus ditaati pengunjung,“ ujar penjaga Curug Cipiit Alim(43). (dkw)

Oleh: palemburan | 13 Desember 2008

Bertahan Meski tak Pernah Dapat Bantuan Pemkab

Umumnya pelaku usaha kecil memulai usahanya dengan modal minim. Banyak pula pengusaha ini gulung tikar karena kekurangan modal. Namun, beberapa pengusaha kecil ini mampu bertahan di tengah hantaman krisis ekonomi. Seperti apa?

Ukar (43), warga kampung Pasiripis RT 17/4 Desa Situdaun Kecamatan Tenjolaya, salah satu pelaku usaha kecil yang mampu bertahan. Pengrajin anyaman bambu ini mampu memproduksi anyaman bambu seperti ayakan, kipas dan tikar meskipun pangsa pasarnya sudah mulai berkurang.

Kehancuran usahanya pun sudah membayangi pria yang hampir 14 tahun menekuni bidang ini. Tapi, berkat kegigihannya ia mampu bertahan saat pengrajin lainnya yang memproduksi produk yang sama dengannya gulung tikar.

Ia pun menceritakan awal mulanya membuka usaha anyaman dari bambu. Dengan modal seadanya, ia mulai membeli bahan-bahan baku untuk membuat anyaman. Tidak lantas produknya  membuahkan hasil dan sukses di pasaran. Ia pun harus rela mengalami kerugian dan kerusakan sebagian produknya.

Tapi, berkat kegigihannya terus berjuang mengembangkan usahanya yang baru beberapa hari dibuatnya. Akhirnya, produk buatannya mampu menarik perhatian warga setelah ia berinisiatif untuk memajang beberapa produknya di depan halaman rumahnya.

Melihat ide yang ia terapkan, banyak yang beranggapan jika ia memiliki pengetahuan pemasaran yang baik. Tapi, pengetahuan pemasarannya ini berasal dari dirinya sendiri tanpa ada bantuan dari siapapun termasuk pemerintah.

Waktu terus berjalan, sedikit demi sedikit, jumlah produksinya meningkat seiring dengan permintaan yang banyak dari pelanggannya. Ia pun terpaksa mengembangkan sayapnya dengan merekrut tenaga kerja untuk membantunya.

Namun, pada  2000, usahanya kembali mengalami kehancuran. Minimnya pesanan menjadi fakto utamanya. Ia pun kembali mengambil keputusan untuk mengurangi tenaga kerjanya dari lima orang menjadi dua orang.

Tetapi yang patut dibanggakan, hingga saat ini usahanya masih berjalan, meskipun tidak seperti sebelumnnya. Padahal, usaha yang dirintisnya tidak pernah mendapatkan bantuan sedikit pun dari pemerintah baik itu modal maupun pembinaan.‘’Saya bersyukur usaha ini bisa bertahan. Padahal saya tidak pernah mendapatkan bantuan sedikit pun dari Pemkab Bogor,’’ ujarnya.(*) sumber : radar-bogor.co.id
(Diky Wahyudi)

Oleh: adul | 13 Desember 2008

Bertahan Meski tak Pernah Dapat Bantuan Pemkab

Umumnya pelaku usaha kecil memulai usahanya dengan modal minim. Banyak pula pengusaha ini gulung tikar karena kekurangan modal. Namun, beberapa pengusaha kecil ini mampu bertahan di tengah hantaman krisis ekonomi. Seperti apa?

Ukar (43), warga kampung Pasiripis RT 17/4 Desa Situdaun Kecamatan Tenjolaya, salah satu pelaku usaha kecil yang mampu bertahan. Pengrajin anyaman bambu ini mampu memproduksi anyaman bambu seperti ayakan, kipas dan tikar meskipun pangsa pasarnya sudah mulai berkurang.

Kehancuran usahanya pun sudah membayangi pria yang hampir 14 tahun menekuni bidang ini. Tapi, berkat kegigihannya ia mampu bertahan saat pengrajin lainnya yang memproduksi produk yang sama dengannya gulung tikar.

Ia pun menceritakan awal mulanya membuka usaha anyaman dari bambu. Dengan modal seadanya, ia mulai membeli bahan-bahan baku untuk membuat anyaman. Tidak lantas produknya membuahkan hasil dan sukses di pasaran. Ia pun harus rela mengalami kerugian dan kerusakan sebagian produknya.

Tapi, berkat kegigihannya terus berjuang mengembangkan usahanya yang baru beberapa hari dibuatnya. Akhirnya, produk buatannya mampu menarik perhatian warga setelah ia berinisiatif untuk memajang beberapa produknya di depan halaman rumahnya.

Melihat ide yang ia terapkan, banyak yang beranggapan jika ia memiliki pengetahuan pemasaran yang baik. Tapi, pengetahuan pemasarannya ini berasal dari dirinya sendiri tanpa ada bantuan dari siapapun termasuk pemerintah.

Waktu terus berjalan, sedikit demi sedikit, jumlah produksinya meningkat seiring dengan permintaan yang banyak dari pelanggannya. Ia pun terpaksa mengembangkan sayapnya dengan merekrut tenaga kerja untuk membantunya.

Namun, pada 2000, usahanya kembali mengalami kehancuran. Minimnya pesanan menjadi fakto utamanya. Ia pun kembali mengambil keputusan untuk mengurangi tenaga kerjanya dari lima orang menjadi dua orang.

Tetapi yang patut dibanggakan, hingga saat ini usahanya masih berjalan, meskipun tidak seperti sebelumnnya. Padahal, usaha yang dirintisnya tidak pernah mendapatkan bantuan sedikit pun dari pemerintah baik itu modal maupun pembinaan.‘’Saya bersyukur usaha ini bisa bertahan. Padahal saya tidak pernah mendapatkan bantuan sedikit pun dari Pemkab Bogor,’’ ujarnya.(*) sumber : radar-bogor.co.id
(Diky Wahyudi)

Oleh: adul | 30 November 2008

SEKARANG SUDAH PUNYA WEBSITE TENJOLAYA.INFO

Alhamdulillah, dari sekedar iseng, aku cari yang pas buat pengembangan blog ini. Akhirnya dengan bermodalkan 2 dollar balance paypal dari hasil cari uang di internet saya membeli domain www.tenjolaya.info dan sewa hosting di dijaminmurah.com.

Saya kontak teman-teman (sdr mardi, usup (yang lain belum ada kontak)) supaya bisa mencari berita dan mengembangkan website http://tenjolaya.info ini supaya bisa lebih bermanfaat lagi dan informasi bisa didapatkan langsung dari sumbernya. amin

NB: lagi dipindahkan dulu ke http://bogorbarat.info

Maaf, kalau websitenya masih dalam tahap perbaikan. Kritik dan saran dari netter sangat membantu dan saya tunggu di e-mail zurick.zaryan@gmail.com

Oleh: adul | 12 Oktober 2008

BLT Bukan Wewenang Kades

TENJOLAYA - Pendataan penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) di Kecamatan Tenjolaya, tetap mengacu pada pendataan oleh pemerintah pusat.

Begitu penegasan Kades Gunungmalang Kecamatan Tenjolaya Deden Sutisna. Menurutnya, kantor desa hanya melakukan pendataan jumlah rumah tangga sasaran (RTS) sesuai data yang masuk ke desa.

Sedangkan, untuk menentukan siapa saja yang layak untuk mendapatkan BLT ditentukan oleh pemerintah pusat melalui pendataan yang dilakukan oleh BPS.

“Tetap saja data yang digunakan hasil verifikasi yang dari BPS pusat. Jadi, jika warga mengeluh kepada kami tidak tepat,” ujarnya kepada Radar Bogor.

Sama halnya dengan camat Tenjolaya Abdullah Sjirodz, Deden pun mengakui jika jumlah RTS di desanya jauh lebih besar dari hasil pendataan BPS. Untuk penerima BLT pengganti yang disalurkan Kamis (9/10) kemarin, hanya sebanyak 491 RTS saja. Sedangkan jumlah RTS di daerahnya lebih dari 500 RTS.

“Kita juga tidak bisa apa-apa, karena wewenang penyaluran BLT berada di tangan pemerintah pusat. Kita hanya sebatas mengajukan jumlah RTS saja,” tandasnya.

Sekedar mengingatkan, pembagian BLT pengganti yang berlangsung di kantor kecamatan Tenjolaya pada kamis (9/10), kemarin, beberapa warga mengeluhkan dan kecewa dengan penyaluran BLT. Mereka menganggap pembagian BLT tidak adil dan tidak tepat sasaran.

Bahkan, bulan sebelumnya tepatnya Selasa (23/9), ratusan warga desa Gunungmalang sempat menyegel kantor desa. Aksi ini mereka lakukan setelah mereka kecewa karena tidak mendapatkan BLT.(dkw) radar-bogor.co.id

Oleh: adul | 28 September 2008

Penyegelan Diduga Ada Provokator

Camat Tenjolaya Abdulah Sjirodz menduga ada provokator yang memicu aksi penyegelan kantor Desa Gunungmalang oleh warga yang tidak kebagian Bantuan Langsung Tunai (BLT) tahap kedua, Rabu (25/9) lalu.

“Tidak menutup kemungkinan ada pihak-pihak yang hendak memperkeruh suasana di desa Gunungmalang, sehingga mereka (provokator,red) mencoba menghasut warga untuk melakukan aksi demonstrasi hingga penyegelan,” kata Abdulah.

Hal tersebut terbukti, saat dialog dengan dengan warga, masalah sudah dapat diatasi. Warga pun menerima hasil dialog , menunggu penyaluran BLT hingga kartu penerima BLT di distribusikan.

“Sampai saat ini kami belum menerima kartu untuk penerima BLT dari kantor pos. Kami pun tidak mempunyai wewenang untuk menyalurkan BLT tersebut,” tandasnya.

Sementara itu, Anggota  Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Kabupaten Bogor, Atang Suryadimulya mengatakan, penyegelan kantor desa seharusnya tidak perlu terjadi. Terlebih lagi, tuntutan warga yang meminta dan menuntut kades untuk membagikan BLT tidak mendasar.

Karena, kades tidak berhak menyalurkan program bantuan pemerintah. “Ini salah persepsi, karena kades tidak memiliki wewenang untuk pendistribusian BLT melainkan melalui kantor pos,” ujarnya ketika ditemui Radar Bogor, kemarin.

Selain itu, Atang yang juga sebagai Kepala Desa Cihideungilir mengatakan, BLT merupakan program yang bisa menjadi masalah bagi kades. Hal ini dapat dilihat dari pendistribusian BLT tahun 2005 silam. “Banyak pada kades yang menjadi sasaran amuk warga karena tidak puas dengan penyaluran BLT yang tidak merata,” ujarnya.

Ada kemungkinan, aksi yang dilakukan warga desa Gunungmalang merupakan aksi yang dipicu karena kurangnya sosialisasi yang dilakukan pihak desa maupun kecamatan tentang penyaluran BLT. Sehingga masyarakat tidak paham tentang proses pendistribusian BLT.

“Mungkin juga ada provokasi dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Karena kades tidak memiliki wewenang untuk mendistribusikan BLT,” katanya.

Ia pun lebih memilih program lainnya dibandingkan BLT, salah satu contoh dengan menyalurkan bantuan bagi pendidikan gratis, dana perguliran dan lainnya.(dkw) sumber radar-bogor.co.id

Warga Segel Kantor Desa

TENJOLAYA – Setelah meng-ontrog kantor Desa Gunungmalang Kecamatan Tenjolaya Selasa (24/9), kemarin ratusan  keluarga miskin yang tidak mendapatkan bantuan langsung tunai (BLT) tahap dua menyegel kantor desa yang dipimpin oleh Deden Sutisna.

Penyegelan dipicu oleh isu adanya pembagian BLT tahap kedua di kantor Desa Gunungmalang, Rabu (24/9). Nyatanya, ketika warga tiba di kantor d,esa Deden Sutisna dan stafnya tidak ada di tempat alias kantor tersebut kosong melompong.

Merasa dipermainkan, emosi warga memuncak. Sebagian warga yang emosi mencari balok kayu dan menempatkannya di pintu masuk kantor desa dengan memaku balok kayu tersebut.

Aksi ini mereka lakukan sebagai bentuk kekecewaan terhadap kepala desa yang dianggap tidak becus dan tidak memihak kepada warga. Beruntung, warga masih bisa meredam emosi dengan tidak merusak kantor desa.

“Kami akan tetap menyegel kantor ini sampai kepala desa membayarkan BLT kepada kami,” ujar Dadang (35) warga Kampung Mekarjaya RT 03/01 Desa Gunungmalang kepada Radar Bogor, kemarin.

Mengetahui ada penyegelan, salah satu staf Kecamatan Tenjolaya memberanikan diri untuk menghampiri warga yang sedang emosi. Staf kecamatan tersebut berniat mengajak warga untuk berdialog dengan Camat Tenjolaya Abdulah Sjirodz, Kapolsek Ciampea AKP Rony Mardiatun dan Kepala Desa Gunungmalang Deden Sutisna.

Mendapatkan pengertian dari staf desa, warga langsung menuju kantor kecamatan untuk berdialog.

“Kita akan menggajukan untuk menggunakan data 2005, karena data ini sudah mewakili semua warga. Selain itu, ini juga atas permintaan warga yang berdemo,” ujar Sjirodz.

Sementara Kepala Desa Gunungmalang Deden Sutisna terlihat bingung dengan kejadian tersebut. Ini karena sebelumnya ia tidak menyangka akan terjadi seperti ini. Ia juga menuturkan, penerima BLT di desanya sudah menggunakan data hasil verifikasi.

“Memang setelah dilakukan verifikasi penerima BLT hanya mencapai sekitar 682 orang. Ini berbeda dengan data 2005 yang mencapai 1.173 orang,” tandasnya.(dkw)

Oleh: adul | 6 Agustus 2008

Petani Pamijahan Dapat Modal Panen

PAMIJAHAN - Petani Kecamatan Pamijahan yang dikenal sebagai salah satu lumbung padi Kabupaten Bogor mendapat angin segar. Itu setelah pemerintah meluncurkan program Usulan Agribisnis Pedesaan (PUAD).

Program PUAD merupakan salah satu program untuk membantu para petani mendapatkan dana perguliran bagi mereka yang akan melakukan panen.

“Ini program pemerintah untuk membantu meningkatkan pertanian dan kesejahteraan petani di berbagai daerah. Karena, setiap kali mau melakukan panen, mereka membutuhkan dana dan selalu meminjam kepada bank keliling (rentenir, red),” ujar Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Pamijahan, Adang Wahidin, kepada Radar Bogor, kemarin.

Ia menjelaskan, program yang akan dilaksanakan 2008 ini berasal dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) yang diprioritaskan bagi pertanian. Program ini akan diberikan kepada gabungan kelompok tani (Gapoktan) dan harus tumbuh menjadi bank desa.

Di Pamijahan sendiri, terangnya, baru lima desa yang akan mendapatkan program PUAD, antara lain Desa Gunungpicung, Desa Cibitung Wetan, Desa Cibitung Kulon, Desa Gunungbunder I dan Desa Gunungbunder II dan 14 sekolah lapang. Di mana setiap desa terdapat satu Gapoktan dengan anggaran masing-masing sebesar Rp100 juta.

“Saat ini dana tersebut belum cair dan masih tahap Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) di tingkat kabupaten,” tuturnya.

Adang optimis program ini akan berhasil, bercermin pada keberhasilan program PNPM, terutama dana perguliran yang berhasil 100 persen di Kecamatan Pamijahan. Namun, ia tetap mengimbau kepada Gapoktan yang akan mendapatkan program PUAD untuk melakukan pengelolaan yang baik.

“Saya berharap, dengan adanya program ini bisa meningkatkan taraf hidup ekonomi masyarakat petani dan mudah untuk mendapatkan modal,” pungkas Adang.(dkw)

sumber : radar-bogor.co.id

PAMIJAHAN - Kemarau berkepanjangan di Kecamatan Pamijahan mengancam gagal panen puluhan hektare lahan pertanian. Hujan yang tak kunjung turun mengakibatkan volume air yang biasa digunakan untuk mengairi sawah mulai berkurang. Terlebih lagi, Desa Gunung Bunder I dan Desa Gunung Picung berada jauh dari sumber air, berbeda dengan desa lainnya.

Hal tersebut diungkapkan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Pamijahan, Adang Wahidin, kepada Radar Bogor, kemarin. Menurutnya, ada dua desa terancam kekeringan karena sumber air yang biasa digunakan untuk mengairi lahan sangat kecil.

“Jika tidak hujan, dua desa akan mengalami kekeringan dan akan menunda jadwal tanam mereka,” ujarnya.

Dia mengatakan, di dua desa tersebut ada sekitar 20 hektare lahan pertanian yang biasa ditanami padi, yang membutuhkan sekitar lima liter per detik air untuk mengairi satu hektare lahan pertanian.

Meskipun begitu, tambahnya, tidak semua lahan pertanian di Pamijahan terancam kekeringan. Yang terancam hanyalah daerah yang jauh dari sumber air, seperti Desa Gunungbunder I dan Desa Gunung Picung. “Selain itu, faktor lainnya adalah rusaknya dua bendungan, yaitu bendungan Solihun dan bendungan Cigede,” ungkapnya. Padahal, kedua bendungan ini sangat diperlukan untuk mengairi lahan pertanian di seluruh desa, tambahnya.

Untuk mengantisipasi kekeringan dan kosongnya lahan, Adang mengimbau kepada para petani untuk mengalihkan atau mengganti lahan pertaniannya dengan tanaman palawija. Karena, tanaman ini memerlukan hanya air sedikit.

“Petani harus bisa mengganti tanamannya dengan palawija, khususnya bagi daerah yang jauh dari sumber air. Hal ini untuk mencegah kekosongan lahan selama musim kemarau,” tandasnya.(dkw)

sumber : radar-bogor.co.id

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »

Kategori