Oleh: adul | 5 Juli 2008

Kawasan Gunung Salak, Obyek Foto yang Menantang Harapan

Kompas/Ratih P Sudarsono / Kompas Images. Tim peneliti ekologi hutan di koridor Halimun TNGHS tengah memastikan lokasi pasti semak belukar yang didominasi kalianda beberapa waktu lalu. Tim peneliti itu berasal dari ahli biologi dan konservasi hutan dari LIPI dan IPB, yang dibantu para penjaga hutan dari Balai TNGHS. Kegiatan penelitian dilaksanakan atas permintaan TNGHS dan Japan International Cooperation Agency

Jatuhnya pesawat angkut ringan CASA 212 dengan nomor ekor A-2106 milik TNI AU di Bukit Tegal Lilin, Desa Cibitung, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Jumat (27/6), menyisakan pertanyaan yang belum terjawab. Mengapa kawasan Gunung Salak menjadi obyek latihan pemotretan yang menuai musibah? Adakah sesuatu yang lebih istimewa dibandingkan dengan obyek-obyek lain?

Ratih P SUdarsono

Belum ada yang bisa menerangkan karena 18 orang yang berada dalam pesawat itu meninggal semua. Mereka (korban) terlibat dalam pelatihan penggunaan perangkat kamera digital foto udara.

Belum jelas betul, mengapa lima personel dan pesawat TNI AU dari Skuadron Udara 4 Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur, tersebut harus berlatih jauh-jauh menggunakan perangkat buatan Jerman tersebut di udara Bogor, Jawa Barat.

Memang dari 18 orang yang berada di pesawat, menurut siaran pers TNI AU, hanya lima personel yang tengah dilatih, lainnya adalah kru pesawat, pengawas, dan supplier/teknisi perangkat kamera digital itu.

Menantang

Ada kemungkinan, udara Bogor dipilih untuk arena latihan karena daratan Bogor menantang untuk difoto dari udara dibandingkan, misalnya, daratan Malang.

Lepas dari segala kemungkinan yang ada—karena TNI AU tidak atau belum mengungkap alasan pasti personel Skuadron 4 itu berlatih di udara Bogor—daratan Bogor, khususnya di kawasan tempat CASA 212 A-2106 itu jatuh, adalah kawasan yang ”sangat indah” dengan pemandangan alam dari rangkaian Gunung Halimun-Salak.

Tidak sedikit pengembang atau perusahaan properti yang membangun perumahan, vila, atau properti jenis apa pun dengan memanfaatkan pemandangan Gunung Salak sebagai nilai jual yang ditonjolkan.

”Bukit Tegal Lilin itu memang masuk kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Hutan di bukit itu masih hutan lama. Namun, saya kurang paham, apakah itu masuk kawasan yang oleh masyarakat umum disebut kawasan pariwisata Gunung Salak Endah (GSE). Sebab, kami dari TNGHS tidak mengenal atau memakai istilah GSE,” kata Jaja Suraja, Kepala Bagian Urusan Perlindungan Hutan TNGHS.

Menurut Jaja, di kawasan pariwisata umum yang masuk di wilayah TNGHS yang ”dekat-dekat” dengan jatuhnya pesawat CASA 212 tersebut oleh pihak TNGHS disebut sebagai Blok Lokapurna, yang luasnya sekitar 256 hektar. Jauhnya, kira-kira 30 kilometer dari Bukit Tegal Lilin. ”Blok Lokapurna ini ada di kawasan Gunung Bunder di Kecamatan Pamijahan. Di sana memang banyak obyek wisata alam, termasuk kawasan bumi perkemahan,” tutur Jaja.

Pihak TNGHS, kata dia, tidak mengenal kawasan wisata GSE, tempat kawasan wisata itu ”tumbuh” dengan memanfaatkan langsung kekayaan dan keindahan alam Gunung Salak. Yang jelas, masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Bogor mengenal kawasan tersebut sebagai GSE. Kawasan ini berada di jalur jalan raya utama mulai dari Desa Tapos I di Kecamatan Tenjolaya sampai Gunung Bunder di Kecamatan Pamijahan. Bahkan, sebelum masuk Desa Tapos I ada gerbang yang menyambut siapa saja dengan kalimat ”Selamat Datang di GSE”.

”Ini memang kawasan GSE. Namun, yang banyak vila untuk disewa masih ke atas. Kalau di sini, baru ada vila punya Pak Sutiyoso, mantan Gubernur Jakarta,” kata Asep (40), warga Desa Tapos I.

Namun, Asep bersemangat menjawab seputar lokasi-lokasi lahan garapan di GSE yang dapat kita beli saat ini. ”Kalau ibu sekarang bawa mobil, ayo saya antar ke Lokapurna. Sebentar juga sudah sampai di sana. Harga tanahnya masih murah, Rp 50.000 per meter. Udaranya di sana lebih dingin dan pemandangannya lebih bagus, cocok untuk bangun vila. Di sana sudah banyak vila,” katanya.

Memang kawasan paling top di GSE adalah Lokapurna. Selain banyak obyek wisata alam, di sana paling tidak ada 60 bangunan vila dan bangunan lain, yang semuanya tak memiliki surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB). ”Sebab, semuanya dibangun di kawasan TNGHS atau di atas lahan milik Perhutani. Bagaimana kami bisa mengeluarkan IMB-nya. Kawasan GSE itu ada di kawasan TNGHS,” kata Dandan Mulyadi, Asisten Pemerintah Kabupaten Bogor, yang juga adalah Pelaksana Harian Kepala Dinas Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor.

Menurut Dandan, sejauh ini pihaknya tidak membongkar bagunan tidak ber-IMB itu karena pemilik lahan ”tidak mempermasalahkan”. Persoalannya juga masih adanya masalah yang belum terselesaikan tuntas tentang tukar guling Blok Lokapurna seluas 256 hektar antara TNGHS dan Yayasan Veteran 45. ”Sepengetahuan kami persetujuan prinsip tukar guling itu dari Menteri Kehutanan tahun 1987. Namun, sampai sekarang tukar guling itu tidak pernah terjadi sehingga Lokapurna sekarang ditetapkan menjadi kawasan perluasan TNGHS,” katanya.

Pemkab Bogor sangat berkepentingan dengan kepastian atau status legal dari kawasan itu karena berharap ada investor yang mau membangun kawasan tersebut, yang akhirnya meningkatkan pendapatan asli daerah. Saat ini relatif kawasan wisata tersebut tidak ditangani dengan baik, apalagi profesional. Padahal obyek wisata di sana cukup banyak dan berpotensial men- datangkan investor dan wisatawan.

Brosur profil ekowisata Kabupaten Bogor yang dikeluarkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bogor menyebutkan paling tidak ada empat obyek wisata air terjun dan pemandian air panas yang mudah dikunjungi, antara lain Air Terjun Curug Seribu, Curug Cigamea, Curug Ngumpet, dan pemandian air panas Ciparai.

Menurut Dandan, dalam revisi Perda Nomor 17 Tahun 2000 tentang Rencana Umum Tata Ruang Kabupaten Bogor, yang saat ini sedang dibahas di tingkat Pemprov Jawa Barat, perkembangan kawasan pariwisata terpadu di Bogor bagian barat, termasuk di kawasan wisata GSE, sudah terakomodasi dalam revisi perda tersebut. Ini termasuk pembangunan infrastruktur menuju kawasan wisata tersebut, yang nantinya terintegrasi dengan Jalan Tol Lingkar Bogor, yang juga akan berhubungan dengan Jalan Tol Jagorawi-Ciawi-Sukabumi.

”Jalan yang dibangun ke kawasan GSE bukan jalan yang ada sekarang karena sudah tidak memungkinkan. Akan dibuka ruas jalan baru. Perencanaan infrastruktur itu sudah dibuat Bappeda, sudah terakomodasi pula dalam perda tata ruang nanti. Kami akan memanfaatkan potensi wisata alam Gunung Salak seluas-luasnya untuk kemajuan ekonomi dan sosial masyarakat Bogor tanpa merusak kawasan taman nasional itu. Sebab, modal utamanya adalah kawasan pegunungan dan taman nasional,” katanya.

Saat ini memang belum ada investor yang menyatakan pasti akan masuk ke GSE atau kawasan wisata lain di Bogor bagian barat itu. Maksudnya, belum ada yang mengajukan permohonan izin prinsip atau lokasinya. Namun, yang bertanya-tanya dan melihat-lihat sudah ada. Ini karena arahan dan perencanaan pemkab membangun kawasan itu sudah ada. Apalagi, kata Dandan, pembangunan Jalan Tol Lingkar Bogor bukan mimpi lagi, tetapi sudah dilaksanakan.

Bogor Nirwana Residence yang kini tengah mengembangkan hunian terpadu di Kota Bogor pun sudah memiliki izin lokasi perluasan kawasan itu ke wilayah Kabupaten Bogor, memanfaatkan kaki Gunung Salak atau keindahan pemandangannya. Perluasan kawasan Bogor Nirwana Residence itu ke Kecamatan Tamansari seluas 14 hektar dan Kecamatan Cijeruk seluas 300 hektar.

Sebuah rangkaian gunung biru keabu-abuan nan elok muncul dari dataran Batavia yang subur menggamit langit yang biru. Demikian ditulis volcanologist Belanda, Hartmann, dalam majalah de Tropiche Natuur edisi November 1939. Rangkaian gunung itu tidak lain adalah Gunung Salak-Halimun-Gede- Pangrango.

Rangkaian gunung itu sampai sekarang masih elok dipandang, menantang harapan untuk menguasainya dan menjadi obyek foto. Juga, masih menjadi daya tarik banyak orang untuk mendatangi dan menapakinya.

Yang terpenting, jangan memerkosa alam pegunungan indah tersebut, yang akhirnya akan merusak ekologi kawasan. Gunung Salak adalah gunung yang masih aktif. Itu sebabnya di sana ada tambang gas alam yang dikelola Chevron Geothermal Salak Ltd.

sumber cetak.kompas.com


Responses

  1. nice article….

  2. Tolong lestarikan obyek pariwisata (gunung) untuk kawan2 kita khususnya merekayg dahulu dan sekarang masih mencintainya termasuk anak cucu kita.
    Gunung Salak bukan gunung yg terlalu tinggi dibanding tempat favorit dibogor (G.Gede & G.Pangranggo) tetapi tempat ini kalau kita tidak berhati – hati atau terlalu menyepelekan hal non teknis dan teknis ( mempunyai handycap yg cukup tinggi terutama cuaca yg kadang2 berubah setiap saat ) bisa berakibat fatal. Sekedar nostalgia saya bersama Ferry Sumbing ( kami Ex SMA IX ’75) pernah tersesat selama 2 hai 2 malam karena mencoba route sendiri setelah turun dari kawah ratu, dahulu kita bisa melakukan pendakian tanpa melakukan laporan kepada instansi berwenang, meskipun sekarang sudah ada prosedur pendakian gunung baru2 ini Th 2008 masih ada juga 7 orang mahasiswa dari jakarta tersesat disana. Karena ketenangan kawan saya saudara Ferry kami dapat sampai dibawah dengan selamat walaupun sempat pingsan beberapa saat dikebun orang ha….ha
    Salam dan Bravo pencinta gunung


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: