Oleh: palembur | 30 Januari 2012

Situs Purbakala di Bogor Belum Tergali Optimal

KONDISI Situs Megalitikum Cibalay atau yang lebih dikenal sebagai Situs Salaka Domas Tenjolaya, Kampung Cibalay Desa Tapos 1, Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Minggu (29/1). Sebanyak 120 situs purbakala...

Sekitar 120 situs peninggalan sejarah dan prasejarah (purbakala) yang ada di Kabupaten Bogor belum tergali secara optimal sebagai wisata budaya. Akibatnya, keberadaannya kurang terkenal dan membanggakan padahal nilainya sangat berharga dan sangat dihargai di negara lain.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bogor, Rudy Gunawan di sela-sela Bebersih dan Sarasehan yang digelar di Situs Megalitikum Cibalay atau yang lebih dikenal sebagai Situs Salaka (Arca) Domas Tenjolaya, Kampung Cibalay, Desa Tapos 1, Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Minggu (29/1).

Menurut dia, 120 situs yang ada di wilayah Kabupaten Bogor itu letaknya tersebar di sejumlah kecamatan yang ada, seperti Cibungbulang, Tenjolaya, Cariu, dan Cigombong.

Diakui Rudy, ke-120 situs yang sangat berharga itu sampai sekarang belum bisa dikelola dengan baik sehingga belum bisa menjadi wisata budaya. “Bisa dilihat dan dirasakan sendiri, akses jalan menuju lokasi situs itu kebanyakan sangat buruk sehingga agak sulit dijangkau oleh wisatawan,” kata Rudy.

Hal itu pula yang menyebabkan situs berharga yang menjadi incaran penelitian orang luar negeri dan peneliti budaya/sejarah kita belum menjadi kebanggaan.

Dikatakan Rudy, tahun ini misalnya, pihaknya baru bisa fokus pada peningkatan kegiatan pemeliharaan situs. Meski tidak disebutkan secara jelas anggaran yang digunakan untuk kegiatan ini. “Yang penting fokus kita sekarang adalah memberi identitas pada sejumlah situs, termasuk papan penunjuk supaya lebih dikenal,” katanya.

Wakil Bupati Bogor, Karyawan Fathurahman yang hadir dalam kegiatan menjanjikan akan memperbaiki sedikit demi sedikit akses jalan menuju lokasi situs yang ada di wilayah Kabupaten Bogor.

“Kebutuhan utama untuk situs-situs yang ada di wilayah Kabupaten Bogor lebih pada akses jalan yang baik menuju lokasi. Oleh karena itu, kota akan masukkan ini ke dalam APBD kita sehingga lokasi situs yang banyak di Kabupaten Bogor bisa menjadi wisata budaya,” katanya.

Sementara itu, Kasi Pelestarian Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Serang, Zakaria Kasimin mengatakan pelestarian dan pameliharaan situs seharusnya tidak mengandalkan BP3.

“Pemerintah daerah harusnya juga mmberikan perhatian, jangan tergantung dan menunggu kita,” kata Zakaria.

Khusus untuk Situs Cibalay ini, dikatakan Zakaria cukup terawat karena berada di kawasan hutan lindung. Potensi yang besar ini, lanjut dia seharusnya bisa menjadi kawasan wisata budaya dan bukan hanya menjadi tumpukan batu semata.

Situs ini sendiri ditemukan sejak tahun 1989 lalu dan sampai saat ini belum ada penelitian yang optimal terkait keberadaan situs yang kemungkinan masih berhubungan dengan Situs Gunung Padang di Cianjur.

Akibatnya, dari sekitar luas kawasan yang diperkirakan mencapai tiga hingga lima hektare ini baru sekitar 1/2 hektare yang bisa digali dan terpelihara. “Diperkirakan masih banyak peninggalan zaman Megalitikum di sini yang belum tergali karena masih terkubur,” ucap Zakaria.

Kondisi situs memang masih terawat dan dalam kondisi baik. Hanya saja, akses jalan menuju lokasi sangat buruk. Meski diakui warga sekitar ada banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang mendatangi situs tersebut, saat musim hujan, akses jalan sangat sulit dilalui. Pengunjung hanya bisa memarkir kendaraannya sekitar 2 kilometer dari lokasi situs.

Kondisi jalannya pun sangat buruk, sebagian dari susunan batu, sebagian lagi jalan setapak mirip pematang sawah. Saat musim kemarau, trek yang naik turun tidak begitu masalah bagi pengunjung. Namun, saat musim hujan, trek menjadi becek, licin dan berbahaya, nyaris tidak bisa dilalui.

Kondisi yang sama juga terjadi di beberapa situs yang ada di wilayah Kabupaten Bogor, seperti Ciaruteun, Pasir Angin dan lain-lain. Padahal, peninggalan purbakala ini merupakan kekayaan yang sangat berharga dan harus dikenal oleh generasi di masa sekarang dan masa depan.

sumber : Pikiran Rakyat, Bogor Barat Online

 

Oleh: bobaronline | 1 Desember 2011

Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Di TNGHS terdapat beberapa potensi obyek wisata alam, sejarah dan aktivitas budaya masyarakat lokal yang dapat dikembangkan menjadi paket-paket kegiatan pariwisata khususnya kegiatan ekowisata, seperti :

Air Terjun (Curug)
Keindahan air terjun merupakan salah satu daya tarik yang banyak diminati wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Pada umumnya air terjun terbentuk karena terjadinya patahan kulit bumi sehingga aliran air terpotong membentuk loncatan air sesuai prinsip aliran air dari ketinggian ke tempat yang lebih rendah. TNGHS mempunyai banyak air terjun, seperti :

  • Curug Cimantaja dan Curug Cipamulan, terletak di desa Cikiray, kecamatan Cikidang dan kabupaten Sukabumi
  • Curug Piit (Curug Cihanjawar), Curug Walet dan
  • Curug Cikudapaeh, terdapat di sekitar Perkebunan Teh Nirmala
  • Curug Citangkolo, terletak di desa Mekarjaya, kecamatan Kabandungan, kabupaten Sukabumi
  • Curug Ciberang dan Curug Cileungsing, terletak di sekitar kampung Leuwijamang
  • Curug Ciarnisah, terletak di sekitar kampung Cibedug Taman Nasional Gunung Halimun-Salak
  • Di Gunung Salak terdapat beberapa curug diantaranya Curug Cangkuang (Cidahu); Curug Pilung (Girijaya); Curug Cibadak (Cijeruk); Curug Citiis (Ciapus); Curug Nangka (Taman Sari); Curug Ciputri (Tenjolaya); Curug Cihurang, Cirug Cigamea, Curug Ngumpet dan Curug Seribu (Pamijahan), Curug Cibereum (Jayanegara).

Puncak Gunung
TNGHS memiliki beberapa puncak gunung dengan ketinggian antara 1.700 – 2.211 m dpl. Secara resmi beberapa jalur pendakian ke puncak gunung di TNGHS belum dibuka dan ditata secara khusus. Tetapi beberapa puncak gunung dan hutan yang relatif masih lebat telah menarik didaki dan dikunjungi oleh berbagai kelompok pecinta alam, dengan memenuhi syarat pendakian : seperti membuat ijin pendakian, mempelajari peta jalur pendakian, pendakian didampingi petugas / orang yang sudah mengetahui jalur pendakian, mempersiapkan diri secara fisik dan perbekalan makanan yang cukup.

Beberapa puncak gunung yang menarik didaki :

  • Gunung Halimun Utara (1.929 m dpl.)
  • Gunung Botol (1.720 m dpl.)
  • Gunung Sanggabuana (1.919 m dpl.)
  • Gunung Kendeng Selatan (1.680 m dpl.)
  • Gunung Halimun Selatan (1758 m dpl.)
  • Gunung Puncak Salak 1 (2211 m dpl.)
  • Gunung Puncak Salak 2 (2190 m dpl.)

Di antara puncak-puncak yang umum dan menarik didaki di TNGHS adalah Puncak Gunung Salak 1 karena paling tinggi.
Adapun jalur pendakian ke puncak Gunung Salak sudah diketahui dan dirintis oleh para pendaki gunung melalui beberapa jalur masuk. Saat ini untuk mendaki Puncak Gunung Salak 1, harus dapat memenuhi persyaratan pendakian gunung dan mengurus ijin pendakian di Kantor BTNGHS di Kabandungan, Sukabumi.
Adapun jalur pendakian yang relatif aman dan umum digunakan adalah melalui jalur Javana Spa/Cangkuang, Cidahu –Simpang Kawah Ratu–Puncak Salak
1. Atau Pasir Reungit, Gunung Bunder–Kawah Ratu–Simpang Kawah/ Puncak Salak 1 – Puncak Salak 1

Kawah Ratu
Dengan dimasukannya Gunung Salak ke dalam pengelolaan TNGHS, saat ini terdapat fenomena alam yang menarik di TNGHS adalah Kawah Ratu, berada di lereng puncak Gunung Salak 1 dan di tengah hutan yang relatif masih baik. Untuk menuju tempat ini, dapat melalui jalur Cangkuang atau melalui Pasir Reungit, Gunung Bunder. Di lokasi ini pengunjung harus berhati-hati, tidak boleh lama dan terlalu dekat sumber-sumber uap panas, karena setiap saat dapat terjadi gas-gas beracun yang sangat berbahaya.

Bumi Perkemahan
Salah satu kegiatan yang dapat dikembangkan di TNGHS adalah berkemah di bumi perkemahan yang sudah tersedia sumber air dan kamar mandi. Lokasinya antara lain di Cangkuang, Sukamantri dan Gunung Bunder.

Candi Cibedug
Candi Cibedug terletak sekitar 10 km sebelah Barat desa Citorek yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 3 jam. Situs Candi yang berukuran kecil ini merupakan salah satu peninggalan kerajaan di Jawa Barat beberapa ratus tahun yang lalu. Situs ini banyak dikunjungi orang dari luar daerah untuk berziarah.

Gunung Batu dan Cadas Belang
Di dalam kawasan TNGHS juga terdapat lokasi-lokasi yang dipercayai mempunyai kekuatan spiritual, sehingga beberapa pengunjung datang untuk maksud berziarah. Seperti di Gunung Batu terdiri dari dinding batu yang terletak pada puncak bukit, sering digunakan untuk tempat penziarahan. Lokasi ini terletak di desa Mekarjaya dapat dicapai dengan jalan kaki sekitar 2 jam dari kampung Cigadog.

Stasiun Penelitian Cikaniki
Lokasinya terdapat di dalam hutan Cikaniki dekat kampung Citalahab. Saat ini Stasiun Penelitian selain dapat digunakan untuk kegiatan penelitian juga dapat digunakan untuk kunjungan ekowisata.

Jalur Interpretasi (Loop Trail) dan Homestay di Citalahab
Jalan setapak Cikaniki – Citalahab sepanjang 3,8 km dibuat pada tahun 1997, jalur ini telah dilengkapi dengan pal hekto meter (HM), papan petunjuk dan shelter. Setelah HM 15, pada jalur ini terdapat dua alternalif jalan yaitu yang langsung ke kampung Citalahab Sentral dimana terdapat homestay yang dikelola masyarakat lokal atau yang berputar ke perkebunan teh Nirmala blok Citalahab Bedeng sekitar 3,8 km. Sepanjang jalur ini dapat menikmati berbagai flora fauna menarik yang akan memberi pengalaman baru bagi pengunjung berjalan di dalam hutan tropis.

Jembatan Tajuk (Canopy Trail)
Jembatan gantung yang menghubungkan antara pepohonan sepanjang 100 m, lebar 0,6 m dengan ketinggian 20–25 m dari atas tanah dilengkapi dengan tangga naik. Jembatan ini terletak sekitar 200 m dari Stasiun Penelitian Cikaniki. Digunakan sebagai pendukung kegiatan penelitian.

Sumber Air Panas
Di TNGHS terdapat beberapa sumber air panas yang masih alami seperti di Cisukarame dan di Gunung Menir, maupun yang sudah dibuka sebagai tempat rekreasi, seperti di Gunung Salak Endah, Cisolok dan Cipanas.

Perkebunan
Perkebunan di sekitar TNGHS termasuk pemandangan alam yang menarik dan banyak dijumpai dalam perjalanan menuju kawasan TNGHS. Umumnya di wilayah kabupaten Sukabumi dan Bogor terdapat beberapa perkebunan teh yaitu perkebunan teh Jayanegara, Cianten, Pasir Madang dan Parakansalak. Bahkan jauh sebelum TNGHS ditetapkan, di tengah taman nasional juga terdapat enclave perkebunan teh Nirmala yang luasnya sekitar 997 ha.
Selain perkebunan teh saat ini disekitar TNGHS juga terdapat perkebunan kelapa sawit, seperti di Kelapa Nunggal, Cikidang, Cisolok dan juga sepanjang jalan dari Cigudeg di kabupaten Bogor menuju kota Rangkasbitung, kabupaten Lebak.
Arung Jeram dan Pantai Selatan
Perjalanan dari Sukabumi atau Cibadak menuju Pelabuhanratu dan terus ke Bayah selain menyusuri bagian tenggara atau selatan TNGHS juga akan melintasi jalur wisata arung jeram (sungai Citarik dan sungai Citatih) serta pantai selatan yang indah seperti pantai Karang Hawu, Karang Taraje dan Sawarna.

Seren Taun
Masyarakat adat kasepuhan Banten Kidul yang tinggal di sekitar TNGHS sampai saat ini masih mempunyai karakteristik budaya yang khas. Dimana setiap tahun setelah panen padi mereka mengadakan kegiatan adat yang disebut seren taun sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilan dalam pertanian khususnya padi yang merupakan makanan pokok masyarakat.
Kegiatan seren taun selain untuk warga kasepuhan juga dapat disaksikan oleh masyarakat umum lainnya termasuk untuk kunjungan wisata budaya karena banyak kegiatan menarik yang dapat dilihat. Jadwal pelaksanaannya antara bulan Juni – Desember setiap tahun, tergantung perhitungan waktu masing-masing kelompok kasepuhan. Beberapa seren taun yang menarik untuk dikunjungi dan dilihat adalah seren taun di kasepuhan Ciptagelar, Sirnaresmi, Ciptamulya, Cicarucub, Cisitu, Cisungsang, Citorek dan Urug.

Kuburan Keramat dan situs-situs masa lampau
Selain situs Candi Cibedug dan Gunung Batu di TNGHS juga terdapat beberapa kuburan keramat dan situs-situs lainnya yang belum terungkap, bahkan ada yang berbentuk “batu berundak” seperti peninggalan masa-masa kerajaan dahulu. Walaupun terdapat di lokasi yang cukup sulit, sering orang berkunjung untuk berziarah seperti ke kuburan keramat di puncak Gunung Salak 1 dan ke lereng puncak Halimun Selatan.
Beberapa lokasi situs lainnya seperti situs Genterbumi di kampung Pangguyangan, situs Ciawitali di Gunung Bodas dan situs Ciarca di kecamatan Cikakak, situs Girijaya di kecamatan Cidahu, Sukabumi, situs Cibalay di kecamatan Tenjolaya, situs Batu Kipas, Lewijamang di kecamatan Sukajaya, Bogor dan situs Gunung Bedil di kecamatan Cibeber, Lebak.
Taman Nasional Gunung Halimun-Salak

sumber : Bogor Barat Online, TNGHS

(Bogor Barat Online ) Saat melaksanakan program kegiatan Rebo Keliling (Boling) di desa Tapos II, Kecamatan Tenjolaya, Rabu (23/11). Dalam sesi dialog, salah seorang warga mengeluh kepada Bupati Bogor Rachmat Yasin (RY), mengenai pelayanan rumah sakit yang belum maksimal.
“Kami warga Tenjolaya merasa pelayanan rumah sakit masih berbelit-belit,” ungkap salah seorang warga. Menanggapi hal tersebut, RY menanggapinya dengan akan membuat Pukesmas di Kecamatan Tenjolaya dapat dijadikan Puskesmas dengan fasilitas rawat inap.
“Saya akan menjadikan Puskesmas di Kecamatan Tenjolaya ini memiliki fasilitas rawat inap, sehingga warga Tenjolaya nantinya tidak akan kesulitan untuk mendapatkan fasilitas rawat inap,” kata RY. Ia juga menambahkan agar para petugas medis tetap melayani warga dengan baik. “Walaupun menggunakan kartu jaminan kesehatan, saya minta para petugas medis tetap melayani warga yang berobat dengan baik tanpa membeda-bedakannya,” ujarnya.
Selain masalah kesehatan, Camat Tenjolaya, Haris Wijaya, menyampaikan keluhan warga mengenai belum adanya bangunan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri di wilayah Tenjolaya. “Warga Tenjolaya meminta agar dibangun SMA Negeri di wilayah Tenjolaya ini,” ujar Haris. RY pun menyatakan akan segera merealisasikan keinginan warga tersebut, “Karena masalah pendidikan ini sangatlah penting, maka keinginan warga Tenjolaya akan segera saya realisasikan,” ujar RY. Dalam kegiatan Boling kali ini, RY juga meresmikan tiga pembangunan hasil dari Program Nasional Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM-MP) Tahun 2011. Pembangunan yang pertama yaitu, pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) di Desa Tapos II, Kecamatan Tenjolaya. Pembangunan yang kedua, yaitu pembangunan jembatan di desa Jagabaya, Kecamatan Parung Panjang. Pembangunan ketiga, yaitu pembangunan RKB di SMP Al-Jihad, Desa Gunung Malang Kecamatan Tenjolaya. Peresmian tersebut ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh RY.Selain itu, RY juga menyerahkan piagam penghargaan Unit Pelaksana Kegiatan (UPK) dari PNPM-MP terbaik se-Kabupaten Bogor, dimana tim UPK Kecamatan Tenjolaya merupakan tim terbaik kedua se-Kabupaten Bogor. RY berharap agar proyek PNPM-MP di Kabupaten Bogor dapat semakin lebih baik lagi, “Saya berharap proyek PNPM-MP di Kabupaten Bogor dapat berjalan semakin lebih baik lagi,” harapnya. Kecamatan Tenjolaya merupakan pemekaran dari Kecamatan Ciampea, hal tersebut berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 3 Tahun 2003, tentang pembentukan Kecamatan. Kecamatan Tenjolaya memiliki luas wilayah 2.617 ha yang terdiri dari 7 Desa, yaitu Desa Cinangneng, Cibitung Tengah, Tapos II, Tapos I, Gunung Malang, Gunungmulya, dan Setudaun. Mata pencaharian warga Tenjolaya sebagian besar bekerja sebagai petani dan buruh tani. Demikian press Releas Humas dan Protokol Setda Kab Bogor.
Sumber :bogorkab.go.id

Bogor Barat Online: Bunga bangkai Amorphophalus titanum koleksi Kebun Raya Bogor kembali mekar pada Selasa (29/11) malam. Bunga bangkai ini merupakan bunga ketiga dari lima umbi yang ditanam di Kebun Raya Bogor sejak tahun 2009 lalu.

Peneliti bunga bangkai, yang juga Kepala Subbidang Seleksi dan Pembibitan Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor, Rabu (30/11) mengatakan bunga bangkai yang telah mekar sempurna pada Selasa (29/11) sekitar pukul 20.00 WIB sampai dengan pukul 21.00 WIB ini mempunyai tinggi 202 sentimeter.

“Bunga ini akan mekar selama seminggu ke depan sebelum kembali memasuki fase umbi,” kata Yuzammi.

Bunga bangkai yang mekar ini merupakan hasil eksplorasi Tatang Daradjat pada Oktober 2009 lalu. Saat itu, Tatang membawa beberapa umbi dan lima di antaranya ditanam di Vak IV C. Dari lima umbi yang ditanam ini, sudah ada tiga umbi yang berbunga. Masing-masing berbunga pada 8 Januari 2010 , 3 Juli 2011 dan terakhir 29 November ini.

Bunga bangkai ini, lanjut Yuzammi berasal dari Sungai Air Payang, Desa Bantunan, Kec. Fahar Bulan, Kab. Lahat, Sumatera Selatan.

Di Indonesia, kata Yuzammi ada 25 jenis. Sebanyak 18 di antaranya merupakan jenis endemik atau hanya bisa hidup di habitat aslinya. Penyebaran jenis bunga bangkai di Indonesia meliputi wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Bunga yang masuk dalam suku Araceae (talas-talasan) ini pertama kali ditanam di Kebun Raya Bogor pada tahun 1920.

Pemantauan “PRLM” di Kebun Raya Bogor, ratusan pengunjung antusias menyaksikan bunga yang tidak selalu mekar sepanjang tahun ini. Bahkan, beberapa di antaranya merupakan rombongan dari luar kota yang tengah mengadakan kegiatan di Bogor.

“Tadi pagi ada acara di Sentul. Sekalian di Bogor lihat ke Kebun Raya. Di tempat saya, enggak ada bunga kayak gini. Langka buat kami. Makanya beruntung pas ke sini pas mekar,” kata salah seorang pengunjung dari Sumedang, Euis.

Bunga yang hanya berbunga 3-4 tahun sekali itu menjadi perhatian khusus pengunjung Kebun Raya. Meski lokasinya berada di lereng dan agak sulit mendakinya karena licin, para pengunjung tetap berusaha naik agar bisa berpose dengan latar bunga bangkai dari jarak dekat. (A-155/A-26).***

sumber : pikiran-rakyat.com

Bogor Barat Online| Informasi Bogor Barat dan Sekitarnya.(bobaronline.com)

Sejak puluhan tahun silam, Kampung Budi Asih yang terletak di Desa Gunung Mulya (Desa Pemekaran Gunung Malang, Red) bertebaran kelinci-kelinci disetiap pekarangan rumah warga, bahkan hingga kedalam rumah pemiliknya.

Desa Gunung Mulya yang memiliki luas kurang lebih 388,535 hektar, memiliki jumlah penduduk 6.764 jiwa dan 1827 kepala keluarga ini merupakan wilayah pemekaran Desa Gunung Malang memiliki komunitas peternak kelinci yang sudah turun temurun. Komunitas itu tersebar di lingkungan Rw01, 02, 03, 04, 10 terletak di kaki gunung Salak Bogor dan berbatasan dengan Desa Setu Daun (sebelah utara), Desa Tapos II (sebelah barat), Desa Gunung Malang (sebelah selatan), dan Desa Suka Jadi Kecamatan Taman Sari (sebelah timur ).

Dikisahkan, pada masa itu rumah warga berbentuk rumah panggung tiang pendek, sehingga kelinci-kelinci itu dengan sendirinya menerobos kolong rumah sebagai sarang mereka dan akhirnya beranak pinak. Pada tahun 2000-an, setiap minggu mulai berdatangan orang-orang dari perkotaan, termasuk para tengkulak untuk membeli kelinci di desa tersebut. Dialah, Aris Rizal, yang saat itu sebagai supplier kelinci yang berasal dari peternak-peternak di desanya.Oleh masing-masing pemilik rumah, kelinci itu pun dipelihara dan diberi makan berupa daun umbi dan hijauan lainnya pada malam hari saat kelinci-kelinci tersebut keluar untuk mencari makan. Ketika itu keberadaan kelinci-kelinci ini bukan komoditi yang diperjual belikan, kecuali kebutuhan konsumsi protein hewani bagi keluarga.

Hal ini berlangsung bertahun-tahun dan turun temurun. Hingga sekitar tahun 1990-an mulai adanya inisiatif warga untuk membuat kandang-kandang kelinci dengan cara-cara tradisional yang bukan hanya untuk keperluan konsumsi protein hewani bagi keluarga semata, melainkan untuk diperjual-belikan, bahkan menjadi mata pencaharian warga.

“Saat itu per ekor kelinci hanya dihargai Rp.2000,- per ekor, uang yang terkumpul dibelanjakan bahan pokok sembako oleh masing-masing peternak,” katanya saat dialog interaktif di radio 93 Teman FM, Jum’at (30/9/2011) petang.

Aris Rizal lebih lanjut menceritakan, pada pertengahan tahun 2009 pernah datang petugas dari Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Perikanan (Keswan Disnakkan) Kabupaten Bogor ke lokasi peternakannya. Petugas itu memberikan masukan-masukan cara bertenak secara benar.

“Saya lupa nama petugas itu, tapi dia sudah banyak membuka wawasan saya soal berternak dengan benar termasuk membuat kelompok tani ternak agar kesejahteraan meningkat pula,” tambahnya.

Sejak itulah, mulai dibimbing untuk mewujudkan Kelompok Tani Ternak Kelinci di desa tersebut, yang hingga kini seluruh peternak yang ada adalah menjadi anggota aktif, yang hingga kini memperoleh binaan dari Koperasi Peternak Kelinci (KOPNAKCI).

Tak jelas siapa orang pertama yang menjuluki kampong itu sebagai “Kampung Kelinci”. “Sebab, kebanyakan orang dari perkotaan yang datang menyebutnya kampung kelinci, bukan menyebut kampung Budi Asih,” kenangnya.

Masih Hadapi Kendala

Sembilan puluh persen warga di Kampung Budi Asih Desa Gunung Mulya, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor telah sepakat untuk merubah paradigma jual beli anak kelinci menjadi budi daya ternak daging kelinci.

Hal ini terungkap dari seorang peternak, yang juga Ketua Kelompok Tani Ternak Kelinci Budi Asih, Aris Rizal. Setelah puluhan tahun lamanya sebagian besar peternak setempat hanya mengandalkan cara-cara tradisional yang sudah turun temurun.

Lokasi geografis yang mendukung dan warisan turun temurun itulah yang menjadikan Kampung ini sebagian besar bermatapencaharian sebagai peternak kelinci, disamping sumber bahan pakan tersedia melimpah. Maka tak heran bila kampung itu dijuluki “Kampung Kelinci”.

“Berternak kelinci memang sangat cocok dikembangkan di kampung kami. Apalagi lahan pertaniannya masih cukup luas sehingga untuk mencari sumber bahan pakan hijau tidak terlalu sulit,” kata Aris Rizal.

Menurutnya, beternak kelinci tidak terlalu sulit asalkan bisa secara rutin dapat menyediakan pakan serta membuatkan kandang yang nyaman bagi hewan ternak itu. “Kalau belum biasa memelihara, memang akan ada anak kelinci yang mati. Namun kalau sudah menggeluti secara benar maka peningkatan jumlah kelinci akan pesat,” ujarnya.

Dia mengatakan, di desanya banyak warga yang memiliki usaha keluarga berupa ternak kelinci dan rata-rata setiap rumah tangga memiliki puluhan ekor kelinci. “Meski belum memenuhi target 100 ekor per bulan, namun kami akan berupaya mencapainya untuk memenuhi permintaan-permintaan,” pungkasnya.

Hal senada dikatakan Suminta Riyahya, Ketua Kelompok Tani Ternak Kelinci Wahana Taruna Karya (Watak) di desa yang sama.Dia pun mengungkapkan kendala yang dihadapi para peternak kelinci ialah modal dan bibit kelinci yang unggul, serta sumber pakan ternak disaat musim hujan tiba.

“Kelinci banyak yang mati dimusim hujan lantaran sumber pakannya tidak cocok yang dapat mengakibatkan penyakit kembung atau buang air cair pada kelinci, sehingga kebanyakan warga menjual ternaknya, lalu membeli bibit lagi setelah musim hujan usai, dan begitu seterusnya,” ungkapnya.

Para peternak di desanya memelihara kelinci hanya berskala kecil meskipun dapat dikatakan sebagai matapencaharian keluarga, apalagi kelinci dapat berkembang biak hingga enam bulan, sedangkan permintaannya membutuhkan waktu enam bulan sekali.

Binaan Koperasi

Ketua KOPNAKCI, Wahyu Darsono mengatakan pencanangan Kampung Kelinci di desa Gunung Mulya, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor ini didasari oleh potensi wilayah tersebut yang sebagian besar bermatapencaharian sebagai peternak kelinci.

“Tentunya pencanangan itu bertujuan mempromosikan potensi dan peluang usaha ternak kelinci sebagai penyedia daging guna pemenuhan protein hewani bagi keluarga,” kata Wahyu Darsono.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh adanya program swasebada daging nasional yang pada dasarnya adalah kegiatan peningkatan populasi ternak dan pemenuhan kebutuhan protein hewani secara mandiri dengan mengurangi ketergantungan impor.

“Sehingga di perlukan diversifikasi penyediaan sumber protein hewani selain dari ternak besar maupun unggas. Kelinci merupakan ternak alternatif yang mempunyai peluang sebagai penyedia sumber protein hewani yang sehat dan berkualitas,” imbuh pria berkacamata ini.

Tentang KOPNAKCI yang berdiri secara resmi tanggal 17 Mei 2011 dan dibentuk dengan dasar pertimbangan adanya komoditas ternak kelinci saat ini sudah diandalkan sebagai substitusi penghasil protein hewani (daging) dalam peningkatan kualitas SDM masyarakat Indonesia, dan sudah menjadi perhatian dan dicanangkan pemerintah dalam program pengembangan dan realisasinya.

“Oleh karenanya, ntuk mencapai skala usaha ekonomis dan kapasitas produksi yang besar, maka dipertlukan wadah sebagai payung bersama dalam menjalankan kegiatan usaha ternak kelinci, pusat informasi, akses pemasaran dan pembinaan/pemberdayaan kelembagaan usaha tani ternak kelinci,” jelas ketua KOPNAKCI ini.

Lebih lanjut diterangkan, koperasi merupakan wadah yang tepat, selain sedang digalakan gerakan sadar koperasi berbasis komoditas (one village, one product) oleh pemerintah, kelembagaan koperasi juga sesuai dengan prinsip dan orientasi pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

Selain itu, perintis pembentukan KOPNAKCI adalah para SMD Tahun 2010 komoditas kelinci diwilayah Bogor dan beberapa petani peternak kelinci lainnya. Koperasi yang dibentuk diharapkan akan menjadi wadh integrasi usaha ternak kelinci secara komprehensif, sehingga mampu mendukung daya saing dalam skala ekonomis yang sesuai dengan kondisi dan situasi pasar serta relevan dengan kebijakan pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat.
(Sumber : www.beritabogor.com, www.kopnakci.blogspot.com, bobaronline.com)

Oleh: palembur | 10 November 2011

KAMPOENG WISATA BISNIS TEGALWARU

Bogor Barat Online| Informasi Bogor Barat dan Sekitarnya.(bobaronline.com)

Tidak seperti  tempat wisata pada umumnya, Kampoeng Wisata Bisnis Tegalwaru (KWBT) merupakan tempat wisata yang sangat unik, keunikannya bukan hanya sekedar kental akan nuansa pedesaanya, tapi di KWBT ini para wisatawan dapat belajar dan melihat langsung proses produksi dari sebuah usaha berbasis Home industry.
Nama Tegalwaru berasal dari sebuah nama sebuah desa  yang berada di kecamatan Ciampea  Kabupaten Bogor. Desa ini  terkenal sebagai lumbung berbagai  produksi pertanian serta wirausaha. Kehadiran Yayasan KUNTUM Indonesia (YKI) yang didirikan oleh Tatiek Kancaniati seorang Social entrepreneur Leader mampu mengangkat sector usaha kecil menengah (UKM) dengan memberikan bantuan pemodalan dan pendampingan usaha selama 3 tahun, selain itu memunculkan UKM dengan produk-produk baru hasil dari pengembangan modal social yang ada. Dari hasil pendampingan yang telah dilakukan lebih dari 3 tahun ini YKI membentuk KWBT melalui Kuntum Organizer merancang program wisata bisnis jadi bagi masyarakat yang ingin mengasah jiwa wirausahanya atau ingin mendapatkan inspirasi bisnis tempat KWBT adalah tempat yang pas untuk mendapatkan inspirasi tersebut.

Inspirasi Bisnis
Desa yang memiliki 6 RW dan 38 RT dengan jumlah penduduk lebih 12.123 jiwa yang sebagian besar berprofesi sebagai petani dan wirausaha. Secara monografi Desa Tegal Waru terdiri dari 6 RW dan 38 RT, dan masing-masing RW memiliki spesifikasi usaha masyarakat. Berdasarkan hasil survei yang kami lakukan di RW 01 beberapa warga memilih alternatif pencaharian keluarganya sebagai pengarajin anyaman bambu dan bilik. RW 02 terdapat pengrajin pandai besi dan pesanan golok ukir. RW 03 karena wilayahnya yang masih luas oleh lahan pertanian, menjadikan warga RW 03 ini menggarap lahan mereka dengan tanaman obat, buah dan tanaman hias.
Beranjak dari RW 03, kita dapat melihat di RW 04 berbagai industri pembuatan selai kelapa dan pembiakan ikan patin. Dari limbah indusri selai kelapa, berpotensi melahirkan aneka usaha seperti briket arang, nata de coco dan hiasan/aksesoris.

Tak kalah di RW 05 pun terdapat industri rumahan berupa pengolahan kecap, cuka, saus dan minuman orson, walau mengunakan media produksi yang sangat sederhana telah memberikan income keluarga yang cukup menjanjikan. Kemudian terakhir di RW 06 masyarakat dominan sebagai pedagang dan tukang bangunan tapi di beberapa area terdapat budidaya tanaman DAS yang telah cukup diakui banyak pihak.

Tour KWBT
Dari berbagai jenis usaha berbasis UKM diatas, para wisatawan akan di perlihatkan berbagai proses produksi dari suatu produk yang dipilih, seperti rombongan wisatawan dari perumahan Darmaga cantik dan Griya melati saat libur sekolah kemarin, anak-anak selain diperlihatkan proses membuat adonan kerupuk, anak-anakpun diberi kesempatan untuk mencoba mencetak kerupuknya. Begitu juga dengan kunjungan ke Tanaman Obat, ibu Sutinah  sang pemandu mengajak para anak-anak untuk berkeliling di kebun tanaman obat yang luasnya hampir 1/5 hektar. Dengan seksama anak-anak mengamati satu demi satu tanaman obat serta khasiat yang terkandung dalam tanaman tersebut.

Setelah selesai keliling kebun anak-anak diminta untuk memetik bunga rosella dan langsung dipraktekan cara membuat sirup serta permen dari buah rosella. Nampak wajah-wajah penuh antusias dan semangat terpancar dari wajah mereka. Apalagi setelah sirup jadi mereka dapat langsung menikmati sirup dari buah Rosella tersebut. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan ke UKM – UKM yang lain.

Outbond On The Road
Mengasah fisik dengan berbagai sarana permainan tradisonal akan dihadirkan di KWBT ini, permainan langka yang nyaris jarang di mainkan seperti: main gelasin, gobak sodor, enggrang, main petak umpet dan permainan tradisional lainya akan menyemarakan wisata kampoeng ini. Selain itu anak-anak dapat merasakan mandi di air sungai yang jernih, memancing dan menagkap ikan di kolam, setelah itu bisa menyantap hasil ikan bakar dari hasil tangkapan ikan tersebut.

Kesenian Sunda
Suasana pedesaan yang asri akan semakin terasa dengan penampilan kesenian sunda berupa music kecapi dan pertunjukan golek si cepot, salah satu UKM yang sehari-harinya membuat Golek ini akan mempertunjukan cerita golek yang sangat mengasikan, selain itu anak-anakpun dapat berfoto bersama si cepot.

Banyak hal yang akan anda dapatkan jika berkunjung ke KWBT ini, selain nuasa pedesaan yang memberikan angin segar dari kepenatan suasana kota, andapun pulang dari KWBT akan mendapatkan jaringan dan inspirasi bisnis yang bisa anda terapkan dirumah anda sendiri. Mangga..Wilujeng Sumping di Kampoeng Wisata Bisnis Tegalwaru (Tk)

Informasi KWBT :
Facebook : Kampoeng WisataBisnis tegalwaru
Contak       : Tatiek 081382433432

sumber : Bogor Barat Online

Oleh: palembur | 9 November 2011

Krisis air bersih di Perumahan Griya Salak Endah II

Bogor Barat Online| Informasi Bogor Barat dan Sekitarnya.(bobaronline.com)

Perumahan Griya Salak Endah II adalah perumahan Rakyat yang berada di wilayah desa Cinangka kecamatan Ciampea. Lebih dari dua bulan ini penghuni kompleks tersebut merasa kekurangan air bersih terutama Blok B dan Blok C. Menurut warga kompleks, blok C adalah paling parah dalam pendistribusian air bersih dari toren (penampungan air), “Kami susah mendapatkan air, kadang sehari hanya mengalir sekali itu juga waktu hanya malam dan hanya bisa memenuhi 1 bak saja” tutur penghuni Blok C. “Kami kadang meminta air ke tetangga blok D untuk mendapatkan air atau numpang mandi di tempat tetangga yang kebetulan masih saudara” tuturnya pula.
Padahal pihak developer sudah menyediakan toren untuk setiap blok. Toren blok A dan blok B sebenarnya sudah terpisah, yang jadi kendala kenapa blok B selalu tidak ada air. Pantauan kami langsung di perumahan GSE II blok B memang toren untuk ke Blok B sudah mencukupi hanya air yang menuju ke blok B2-B3 tidak sampai, walapun ada tapi tidak sampai ke bak penampungan di kamar mandi.
Masyarakat Komplek Perumahan Griya Salak Endah II terutama Blok B2-3 menginginkan perbaikan dari pihak Developer supaya masalah air bersih ini diperhatikan, karena kegiatan sehari-hari seperti mencuci, masak, mandi tidak terganggu lagi.

Gambar: http://www.gemilangproperty.com/gse2
Penulis: Warga Kompleks GSE II

sumber : Bogor Barat Online

Oleh: palembur | 9 November 2011

Jalan Campur Tanah Licin, Motor Berjatuhan

Sebanyak 48 sepeda motor tergelincir di jembatan Abdullah bin Nuh, Kecamatan Bogor Barat pukul 18:30 tadi malam. Saat itu wilayah Bogor diguyur hujan deras, sehingga jalan menjadi licin. Beruntung tak ada korban jiwa dalam kecelakaan tersebut.

Peristiwa tersebut diduga karena kondisi jalan yang dilumuri tanah dari proyek pelebaran jalan dan pembangunan jembatan yang sama sekali tidak pernah dibersihkan. Akibatnya saat hujan turun, jalan menjadi licin dan membuat ban slip.

Nana Supriyatna (46), warga Kelurahan Bubulak Kecamatan Bogor Barat, mengatakan, sebenarnya sejak dua hari lalu warga sudah meminta kepada tiga perusahaan, yakni, PT Baita Sari, PT Bumi Duta Persada, PT 3M dan KSO segera membersihkan gundukan tanah yang berada di tengah jalan. Tetapi sama sekali tidak diindahkan.

“Kami sudah meminta kepada para pekerja, tapi mereka diam saja. Alasannya belum ada perintah dari atasan. Untungnya tak ada korban jiwa pada peristiwa tersebut,” jelasnya kepada Radar Bogor.

Dalam kesempatan berbeda, salah satu korban luka ringan, Rahmat Mulyana (48) asal Leuwiliang menegaskan, seharusnya kontraktor lebih memperhatikan keselamatan pengendara. Misalnya dengan membersihkan jalanan dari gundukan tanah.

“Padahal sudah pelan-pelan, tetapi saya tetap saja jatuh. Mestinya mereka melihat situasi dong, ini kan membahayakan keselamatan orang banyak. Siapa yang mau tanggung jawab kalau ada yang tewas,” tutur Rahmat sambil merintih kesakitan.

Menanggapi hal tersebut, Wakapolsekta Bogor Barat, AKP Gatot Susanta menegaskan, masyarakat yang mengalami kecelakaan dan kerugian akibat peristiwa tersebut bisa segera melaporkan ke Polsekta Bogor Barat. Sebab, menurut peraturan, pengusaha jasa konstruksi wajib membersihkan roda kendaraan dari tanah yang menempel serta menjaga jalanan agar tetap bersih.

Pengusaha juga bertanggung jawab apabila ada pengendara yang menjadi korban.

“Bagi warga yang merasa dirugikan, silakan lapor ke sini (Polsek Bogor Barat, red). Sebab undang-undangnya sudah ada. Kalau ada laporan kami akan segera memproses kasus tersebut, agar pihak kontraktor bertanggung jawab,” pungkasnya.(fdy)

foto dan berita : radar-bogor.co.id

bobaronline.com

Mati lagi…mati lagi… inilah kata-kata yang sering diungkapkan sebagian warga soal menanggapi kematian listrik yang sering terjadi. Sebagai konsumen tentunya hal ini sangatlah merugikan, baik konsumen perorangan, maupun konsumen besar. Perusahaan Listrik Negara (PLN) selaku badan usaha milik negara ini seharusnya tanggap keluhan masyarakat terutama pelanggan PLN di perkampungan.
Mati listrik sebenarnya sudah tidak aneh bagi masyarakat Bogor Barat terutama masyarakat kecamatan Ciampea dan Tenjolaya, hampir setiap ada hujan dan petir pasti listrik mati, tapi yang lebih mengherankan jika listrik mati padahal tidak ada hujan dan petir. seperti diungkapkan oleh salah satu penduduk desa Cihideung ilir di status Facebooknya “cihideung ilir dan sekitarnya sering parem lampu………(kos peuting eweuh hujan eweuh petir pareum… pake lila deuih…….)”.
Apa sebenarnya yang terjadi? bisa di simpulkan kemungkinan lagi perbaikan gardu atau salah satu jaringan ada yang rusak. Tapi sebenarnya permasalahan ini bisa diatasi dengan sosialisasi ke masyarakat tentang pemadaman listrik, seperti yang diterapkan di kota-kota besar dengan adanya surat edaran ke perusahaan-perusahaan bahwa ada pemadaman listrik. Mungkinkah ke kampung-kampung bisa diterapkan? apakah tidak ada cara untuk menyampaikan ke masyarakat atau memang tidak peduli dengan kondisi masyarakat sampai-sampai pemadaman listrik seenaknya saja. Sebenarnya pemberitahuan ke masyarakat bisa disebarkan melalui pengeras suara baik PLN sendiri yang menyediakan dengan keliling jalan raya atau pengeras suara yang di pakai di mushola atau mesjid.
Mudah-mudahan pihak PLN bisa memperbaiki kinerjanya jangan sampai masyarakat mencap bahwa PLN kerja tidak benar bahkan bisa tergantikan dengan singkatan Perusahaan Lilin Negara.

sumber : bobaronline.com

Oleh: palembur | 27 Oktober 2011

POLDA Seluruh Indonesia Belajar Nata De Coco

Desa tegalwaru tak seperti biasanya, puluhan mobil dan bis besar yang di naiki oleh para perwakilan  Polisi daerah (Polda) seluruh indonesia ini mendatangi desa tegalwaru yang di kawal oleh petugas keamanan desa tegalwaru.

Kehadiran lebih dari 30 polisi ini bertujuan untuk melakukan studi banding produk agroindustri di usaha peternakan dan produksi nata de coco yang berada di desa tegalwaru melalui program kampoeng wisata bisnis tegalwaru yang digagas oleh Tatiek Kancaniati.

Sebelumnya para polisi dari berbagai daerah ini sudah mengikuti pelatihan kewirausahaan yang diselengarakan setiap tahunya oleh Yayasan BRATA BHAKTI POLRI, dengan tujuan memberikan bekal bagi para polisi daerah yang akan pensiun agar pasca pensiun nanti mereka mendapat bekalan ilmu bisnis dan dapat memlih bisnis yang pas sesuai dengan sumberdaya yang ada dan memiliki prospek pasar yang bagus.

Dalam sesi pelatihan Nata de coco yang di pimpin oleh Tatiek Kancaniati (lulusan Fateta IPB) dan Praja (lulusan TIN IPB), memberikan gambaran tentang pemanfatan limbah kelapa melalui proses fermentasi dengan bakteri acetobacter xylinum dan khasiat nata de coco yang sangat baik untuk kesehatan pencernaan.

Peserta pun terlihat sangat antusias di karenakan didaerah masing-masing ketersediaan air kelapa cukup bagus, seperti yang diungkapkan oleh David Mami (peserta yang berasal dari polda Papua) mengatakan “saya sangat berminat bisnis nata de coco selain mudah proses pembuatannya dan makanan yang menyehatkan untuk diet”. Selain itu Guntur peserta dari Aceh juga berharap  “Pelatihan ini nantinya bisa diterapkan di daerahnya dan mengucapkan terima kasih yang telah memberikan kesempatan belajar di Kampoeng Wista Bisnis di Tegalwaru melalui pelatihan nata de coco”.

Peserta selain diberikan teori tentang proses pembuatan nata de coco, merekapun diajak untuk melihat ke lapangan bagaimana proses sebuah home industri Nata de Coco dan setelah itu para peserta dengan puasnya menikmati hidangan nata de coco yang sudah disediakan panitia.

—-
Tatiek Kancaniati
Public Relations
0813 82433 432

sumber : Bogor Barat Online

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.