Oleh: bobaronline | 18 Januari 2013

Banjir di Jakarta Jangan Salahkan Bogor

banjir-kampung-melayuBogor selalu jadi kambing hitam dalam persoalan banjir di ibu kota dan sejumlah daerah tetangga. Bilamana Jakarta terendam, selalu saja terucap; banjir kiriman Bogor. Indikatornya sangat simpel, Bogor merupakan hulu dari Sungai Ciliwung. Sementara jika Ciliwung meluap, maka luapan air berasal dari Bogor. Begitu kiranya stigma yang melekat di masyarakat awam. Tapi apakah yang sebenarnya seperti itu? Persoalan muncul ketika alih fung si lahan di hulu Sungai Ciliwung yakni kawasan Puncak, Cisarua kian tak terkendali. Kawasan tutupan vegetasi yang berfungsi menahan air permukaan, berubah menjadi vila-vila pejabat dan kaum berduit. Kondisi perubahan alam tersebut menjadi faktor dominan penyebab banjir dan bencana longsor.

Penelusuran Radar Bogor, mayoritas pemilik vila adalah pejabat pemerintah, militer berpangkat jenderal, serta konglomerat asal Jakarta. Hanya segelintir milik Bogor dan sekitarnya. Hingga awal 2013, tercatat sedikitnya 3.368 bangunan vila yang tersebar di dua kecamatan yakni Megamen dung dan Cisarua. Dari jumlah itu, 112 bangunan vila di Megamendung dan 53 di Cisarua tak berizin alias bodong.

“Pemilik vila kebanyakan orang kaya dari Jakarta dan sekitarnya,” ujar Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengawas Tata Bangunan wilayah Ciawi, Rudi Achdiyat kepada Radar Bogor, kemarin. Dampak kerusakan lingkungan di kawasan Puncak cukup jelas.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) DR Sutopo Purwo Nugroho memapar kan, data terakhir yang dihimpun sampai Rabu (16/1), sekitar pukul 15:00, dua orang tewas akibat hanyut. Sementara sebanyak 9.374 warga dari 50 kelurahan di Jakarta terpaksa mengungsi. Rumah mereka terendam banjir dari luapan Sungai Ciliwung. Tinggi banjir ber variasi, dari 10 sentimeter hingga tiga meter.

Seperti di Kampung Melayu, Cawang, dan Bukit Duri. Tinggi banjir mencapai 2,5 meter. Tercatat, 367 RT di 131 RW yang tersebar di 39 keluraham terendam banjir. Sekitar 20.275 kepala keluarga dan 63.686 jiwa terendam banjir. Jumlah pengungsi terbanyak di Kelurahan Kampung Melayu yakni 2.257 jiwa. Pengungsi ditempatkan pada Rumah Sakit Hermina, GOR Jakarta Timur, Masjid Attawabin, Musala Awabin, Aula Sudinkes Jakarta Timur, Aula Masjid Ihttihadul Ikhwan.

“Hingga kini, tercatat dua orang meninggal dunia, yakni satu anak di Tanjung Duren yang hanyut ke sungai dan satu orang di Kampung Melayu,” tutur Sutopo. Sedangkan jumlah pengungsi di Jakarta Timur mencapai 4.311 jiwa, yakni di Kelurahan Kampung Melayu 2.257 jiwa, Bidara Cina 949 jiwa, Kramatjati 500 jiwa, dan Cililitan 605 jiwa.

Di Jakarta Selatan, pengungsi mencapai 2.127 jiwa yang tersebar di Bukit Duri 1.151 jiwa, Pejaten Timur 60 jiwa, Pondok Pinang 48 jiwa, Ulujami 150 jiwa, Pondok Labu 65 jiwa, Tanjung Barat 567 jiwa, dan Lenteng Agung 86 jiwa. Sementara di Jakarta Barat, pengungsi mencapai 2.426 jiwa yang tersebar di Kedoya Selatan 24 jiwa, Wijaya Kusuma 510 jiwa, Kedaung Kaliangke 300 jiwa, dan Rawa Buaya 2.102 jiwa.

“BNPB, BPBD DKI Jakarta, Kementerian PU, Kemsos, Kemkes, Basarnas, TNI, Polri dan unsur lainnya memberikan bantuan darurat kepada korban bencana. BNPB mengerahkan 150 personel Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana Wilayah Barat untuk memberikan bantuan darurat di 16 posko banjir,” jelas Sutopo kepada Radar Bogor.

BANJIR JAKARTA SALAH WARGA JAKARTA Menyikapi hal ini, Manajer Kampanye Tambang dan Energi di Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Pius Ginting mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Bogor dan Cianjur bertanggung jawab dan segera bertindak. Alih fungsi lahan hijau menjadi hutan beton dan pemukiman harus dihentikan. Bahkan, sudah selayaknya permukiman di kawasan dengan derajat kelerengan tinggi dan bekas hutan dipulihkan kembali menjadi kawasan hijau.

“Puncak harus dijaga. Walau biayanya tinggi, kawasan hijau yang jadi permukiman itu harus dipulihkan dan menjadi hutan kembali. Ini tanggung jawab DPRD Jabar, DPRD Bogor dan Cianjur terlibat di situ. Kembalikan kawasan tangkapan air,” tegasnya, ketika dihubungi Koran ini melalui sambungan telepon.

Pius membenarkan kerusakan lahan hijau di Puncak akibat ulah para konglomerat Jakarta, Bogor dan sekitarnya. Mereka mendirikan vila dan rumah-rumah peristirahatan tanpa memikirkan dampak lingkungan. Karena vila di Puncak tak ada yang murah. Hanya mereka keluarga pejabat dan pengusaha kaya yang mampu membelinya. Sedangkan masyarakat miskin yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung dari Bogor hingga Jakarta yang harus menanggung beban.

“Orang-orang kaya di Cikeas, Menteng dan Bogor yang banyak punya vila di Puncak. Rakyat Jakarta secara keseluruhan tidak menciptakan itu. Warga miskin tidak punya vila di Puncak. Tapi mereka yang harus menerima dampaknya yaitu banjir,” cetusnya.

Selain itu, lanjut Pius, Pemkab Bogor tak seharusnya memudahkan perizinan di kawasan Puncak. Pemkab tak boleh hanya melihat keuntungan dari pajak bangunan, atau bahkan menerima fee dari konglomerat yang mendirikan vila. Karena dampak dari itu semua adalah kehancuran ekonomi masyarakat miskin.

Pius menambahkan, pekerjaan rumah (PR) Pemkab Bogor soal kerusakan lingkungan masih banyak. Berdasarkan penelusuran Walhi terkait penyebab banjir besar di Serang, Banten, beberapa pekan lalu, Jalan Raya Lebakwangi, Rum pin hingga Kecamatan Parungpanjang yang baru dua tahun dibeton, kondisinya 90 persen dalam keadaan rusak parah.

Penyebabnya adalah adanya aktivitas dam truk yang setiap hari yang memuat material pasir dan batu. Selain itu, sungai-sungai di wilayah setempat juga terus ditambang tanpa henti untuk diambil pasir dan batunya.

Tak hanya itu, perbukitan yang berbatasan dengan areal perkebunan sawit telah diokupasi menjadi bahan tambang. Kawasan dataran tinggi tersebut telah beralih fungsi dari kawasan hutan menjadi areal perkebunan kelapa sawit. Walhi memastikan bahwa kerusakan di wilayah Kabupaten Bogor yang berbatasan dengan Kabupaten Lebak, berkontribusi besar terhadap banjir yang melanda wilayah Kabupaten Serang hingga melumpuhkan jalan Tol Jakarta-Merak.

Karenanya,Walhi mendesak Pemkab Bogor untuk menghentikan penambangan sungai dan perbukitan di wilayah setempat. Demikian pula penggunaan Jalan Raya Lebakwangi agar dihentikan pengunaannya bagi kendaraan perusahaan pengangkut material tambang.

Terpisah, Peneliti Pusat Pengkajian dan Pengembangan Wilayah (P4W) LPPM IPB, Ernan Rustandi memperkirakan pola kecenderungan banjir dan longsor semakin tinggi intensitasnya dari tahun ke tahun. Berdasarkan penelitiannya, potensi longsor Puncak dan banjir Jakarta berpotensi muncul di musim penghujan, antara pertengahan Januari hingga pertengahan Februari. Di mana pada masa itu, curah hujan ekstrim dan cenderung terjadi selama lima hingga enam hari berturut-turut. “Banjir yang terjadi di Jakarta dan longsor di Puncak kemarin penyebabnya jelas penurunan kualitas lingkungan. Ini menahun kecenderungannya. Tutupan hutan, areal pertanian, dan ruang terbuka hijau terus berkurang. Bencana kemarin adalah dampak nyata,” paparnya.

Menurut Ernan, sebenarnya siklus hujan tidak berubah dan polanya tidak terlalu ekstrem. Akan tetapi, daya dukung bencana karena rusaknya lingkungan yang menyebabkan hujan seolah-olah menjadi penyebab utama. Ernan menganalogikan, air hujan turun ke bumi dan langsung mengarah ke sungai menjadi air permukaan. Air mengalir tanpa adanya adanya sumur-sumur resapan. Seharusnya, air sebagian diserap tanaman dan menjadi tabungan di musim kering.

Ernan juga melihat adanya masalah inkonsistensi tata ruang di kawasan Puncak. Ada perubahan peruntukan dan penggunaan yang mencapai 30 persen dari titik ideal per tahun. Belum lagi ada beberapa rencana atau pemanfaatan yang tidak sesuai dengan kemampuan lahan. Kawasan lereng sungai dan tanah dengan tingkat siraman tinggi dan kontur labil malah menjadi pemukiman.

“Ya jelas rawan longsor dan degradasi lingkungan. Tapi kok tetap dilokasikan untuk pemukiman,” geramnya.

Saat ini kawasan puncak sudah banyak kehilangan ruang terbuka hijau. Terutama kebun dan hutan rakyat seperti aneka jenis pohon buah yang bisa dibilang mendekati punah. Karena bagi sebagian orang, Puncak lebih baik dikonversi menjadi pemukiman yang menguntungkan secara ekonomi. Sedangkan areal persawahan yang memiliki manfaat tinggi bagi lingkungan, justru dibabat habis karena tak menguntungkan dari segi ekonomi.

Ernan menyimpulkan, lebih dari 60 persen kontribusi kerusakan alam di Puncak sebagai penyebab banjir Jakarta. Sebagai solusi, perlu adanya kesepakatan komitmen Pemerintah Provinsi Jabar, Bogor, Cianjur dan DKI Jakarta. Bahkan, Ernan meminta Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) untuk naik ke Puncak dan melihat kondisi riil saat ini. Karena upaya Jokowi mengatasi banjir hanya dengan memperbaiki gorong – gorong atau megangkut sampah di sungai tak akan pernah cukup.

Ia menambahkan, secara tidak langsung, banjir Jakarta juga disebabkan oleh warga Jakarta juga. Orang kaya dari Jakarta melakukan pengembangan kawasan di Puncak, tanpa memikirkan dampak lingkungan. Karenanya, mereka juga harus mau ikut menyumbang solusi dan kompensasi tata ruang di Kabupaten Bogor.

“Dua kesimpulan sederhana ke depan. Jokowi harus mau ikut menyelesaikan kawasan Puncak ini. Jakarta harus mau ikut menanggung biaya dan kompensasi untuk memperbiaki lingkungan di Puncak. Kalau ini dibiarkan, Jakarta akan makin bermasalah dengan banjir,” tandasnya.

Sekadar informasi, dalam kurun waktu 1990-2010, P4W LPPM IPB mencatat 354 hektare hutan lebat dan 755 hektar hutan semak di Subdaerah Aliran Sungai Ciliwung Hulu beralih fungsi. Sementara luas permukiman yang pada tahun 1990 tercatat 883 hektar. Jumlah ini bertambah 1.287 hektare dalam 20 tahun.

WADUK CIAWI BAKAL DIGARAP Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo kemarin menemui Wakil Presiden Boediono untuk meminta bantuan.

“DKI Jakarta adalah wajah kita. Pemerintah pusat tidak mungkin lepas tangan. Dengan batas-batas yang kami miliki, kami akan membantu maksimal upaya pemerintah DKI Jakarta untuk mengatasi berbagai permasalahan kota,” kata Boediono di Kantor Wakil Presiden kemarin (16/1).

Dalam jangka pendek, upaya yang akan dilakukan adalah membuat sudetan antara Kali Ciliwung dan Kanal Banjir Timur (KBT) sehingga sebagian debit air dari Bogor akan dialirkan ke KBT. Kanal yang baru beroperasi tahun lalu tersebut selama ini hanya didesain untuk mengalirkan 15 sungai kecil di Jakarta Timur.

Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PU Muhammad Hasan mengatakan, pihaknya akan mulai mengkaji pembangunan wadukCiawi. Proses pengkajian dan pembuatan detail engineering design (DED) diperkirakan membutuhkan waktu setahun.

Selain untuk mengetahui titik banjir yang dapat diatasi, pembangunan waduk berkapasitas 25 juta meter kubik tersebut juga harus dipertimbangkan karena berada di area ketinggian. Selain itu, dana pembuatan waduk diperkirakan sangat besar karena biaya pembebasan lahannya tinggi.

“Risiko yang mungkin timbul dan dampaknya bagi daerah hilir harus diperhitungkan,” terangnya.

sumber: radar-bogor.co.id
Judul Asli:Dua Tewas, Sembilan Ribu Mengungsi. Banjir Jakarta Salah Warga Jakarta
dari : bobaronline.com

Hasbi Setiarahman

Fokus dan Berani adalah Motto yang diterapkan oleh seorang GIS muda ini. Hasbi Setiarahman atau dikenal Abi (22), terlahir di sebuah Desa di Kabupaten Bogor yang cukup jauh dari Kota. Tepatnya Kampung Pasir Oray Desa Cinangka Kab. Bogor. Tahun 2005 dirinya ikut serta dalam pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) yang kemudian dilanjutkan ke Sekolah Dasar (SD). Potensi yang ada pada dirinya sedikit demi sedikit muncul berkat kegigihannya dalam belajar dan dorongan yang kuat dari kedua Orang tuanya hingga ia sering mendapatkan peringkat no. 2 di sekolahnya. Setelah lulus SD pada tahun 2002 ia meneruskan Pendidikannya ke SLTP Pembangunan 1 yang berada di Kota Bogor yang juga sambil memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren AL-UM Gunung Batu.

Prestasinya pun cukup memuaskan, Abi masih menduduki peringkat 2 hingga akhirnya kedua orang tuanya menginginkan ia bersekolah di SMK SURVEI DAN PEMETAAN karena melihat saudaranya yang sukses menjadi Pegawai Negeri. Sebenarnya Abi tidak ingin bersekolah di sana, ia masih ingin menikmati masa-masa sekolah yang bergabung antara laki-laki dan perempuan karena ia tahu sekolah itu mayoritas hampir 97% Laki-laki. Tetapi dirinya hanya bisa mengikuti keinginan orang tuanya yang memang mungkin itulah yang terbaik untuk dirinya. Dengan berat hati Ia pun mulai bersekolah di sana. Akan tetapi tidak menyurutkan buat Abi untuk berprestasi, bahkan di sekolah tersebut Abi juga mendapat prestasi yang baik.

Sikap, kerapihan, ketekunan, kerajinan dan kecerdasan yang Ia miliki sering membuat gurunya terkesan dan menyuruh siswa-siswinya agar seperti dirinya. Suatu hari ia pun mendapatkan project yang dilimpahkan kepada 3 Orang siswa dari orang BAKOSURTANAL yang terkait dengan bidang pemetaan persawahan dari Departemen Pertanian. Disitulah ia mulai mempelajari dan memperdalam ilmu pemetaannya hingga suatu hari Ia lulus sekolah dan orang tuanya pun memberikan masukan agar Abi ini bisa meneruskan kerja terlebih dahulu dibandingkan kuliah.

Sebenarnya Abi cukup kecewa dengan keputusan Orang tuanya itu, Ia pun sama seperti yang lain ingin mengalami masa-masa kuliah sebelum ia benar-benar terjun ke dunia pekerjaan. Apalagi anak seusianya memang seharusnya masih mengeksplorasi ilmu-ilmu yang belum Ia dapatkan.

Ketika Ujian Akhir Sekolah (UAS) selesai pada hari sabtu, senin Abi sudah mendapatkan panggilan kerja. Ia bersama dua temannya langsung bekerja pada perusahaan Consultants GIS di Bogor PT. GEOSINDO ketika teman-temannya masih asik berkumpul di sekolah untuk menunggu hasil UAN dan UAS. Dengan gaji yang sangat kecil yaitu 850ribu rupiah tetapi Ia cukup memahami dan mengeksplorasi ilmu-ilmu yang didapat dari perusahaan tersebut. Beberapa kali ia sempat ikut survey ke Kalimantan dan Bali. sampai suatu ketika ia merasa jenuh bekerja dan sedikit berbicara kepada orang tuanya. “Pak, Abi belum siap untuk kerja. Abi masih ingin meneruskan kuliah”. Tapi apalah daya orang tua tidak sanggup untuk membiayai kuliahnya. Jangankan kuliah, kedua adiknya pun sudah cukup membebani keuangan orang tuanya. “Bi, Abi kerja aja dulu, Bapak belum siap untuk biayai kuliahmu. Semoga Abi ngerti Bapak dan Mamah”. Abi berusaha mengerti dan ia pun tetap melanjutkan pekerjaannya, ia tetap menggali ilmu-ilmu di Perusahaan ini selama 1,5 tahun walaupun sebenarnya ia terkadang ia sedih melihat teman-teman sebayanya yang melanjutkan kuliah. Hingga akhirnya ia mendapatkan tawaran kerja yang di seberang pulau sana. Ia beranikan diri untuk mencari pengalaman dibidang Perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Timur yaitu PT SINERGI AGRO INDUSTRI.

Abi pun mulai bekerja pada Desember 2009 tetapi tidak bertahan lama, ia hanya ingin mengeksplorasi dan memahami ilmu perkebunan. Abi berfikir jika ia terus berada di Perkebunan tidak akan menambah ilmu lain baginya. 4 bulan ia sudah pulang ke Bogor, sampailah ia di kampung halamannya tercinta dengan tidak memiliki batu loncatan pekerjaan selanjutnya.

Satu bulan Abi merasa jenuh tanpa pekerjaan, akhirnya guru di sekolahnya menelepon.

(Guru : “Hasbi, kamu sudah keluar dari Kalimantan.?”

Abi : “Iya Pak”.

Guru : “Ada kerjaan nih di Konsultan Environmental di Bogor butuh tenaga Pemetaan, kamu mau?”.

“Wah, kesempatan” Pikirnya.

Abi : “Iya Pak, boleh-boleh di Daerah mananya Pak?”.

Guru : “Di Kemang Bogor. Ya sudah nanti saya berikan nomor Hasbi ke beliau ya”.

Abi : “Ok Pak, Terima Kasih Pak”.)

Abi sangat senang karena ia akan mendapatkan pekerjaan baru. Hari itu juga Abi melakukan tes dan akhirnya lolos.

Di PT INRR ini Abi mengerjakan Proyek-proyek AMDAL milik Perusahaan minyak seperti PERTAMINA, CHEVRON, EXXONMOBIL, TOTAL, dll. Ia pun cukup banyak mengembangkan ilmu otodidaknya dengan mengeksplorasi ilmu2 baru juga memberanikan diri untuk menjadi guru les privat untuk bidang GIS dan mempromosikan iklannya di facebook http://id-id.facebook.com/pages/KURSUS-GIS-ArcGIS-ArcVIEW-AutoCAD-Global-Mapper-dll/140684445942260. kemudian blog, http://kursusgis.blogspot.com/ dan http://abigis.webs.com/

Disinilah awal dari moto “BERANI” benar-benar harus ia terapkan. Sasaran kursusnya sebenarnya alumni SMK Adi Sanggoro, tetapi untuk kursus ini permintaan banyak berdatangan dari luar. Hasbi yang lulusan SMK ini kaget juga kagum pada dirinya yang bisa mengajar orang-orang yang lebih tinggi ilmu dan pendidikannya ketimbang dirinya. Senin-Jumat adalah waktu ia untuk bekerja di Perusahaan, sabtu & minggu waktu mengajar. Jarang sekali ia istirahat dan juga ia selalu tidur lewat tengah malam.

Foto keluarga besar dari Kakek Abi.

Pelatihan/kursus GIS yang ia iklankan melalui media internet itu semakin berkembang, diantaranya adalah Pascasarjana yang sedang kuliah S3 di Jepang, S3 IPB, S1 IPB, S2 UI, 20 Orang mahasiswa UNIV. Samratulangi Manado yang datang langsung ke Bogor menemui dirinya, pernah juga ia mengajarkan seorang Project Manager Perusahaan Explorasi Emas, pemilik perusahaan besar di Jakarta, dari Departemen Pertanian, bahkan beberapa orang dari Komite Penanggulangan Kemiskinan milik pemerintah. Subhanallah Abi sangat bangga dan tidak percaya pada dirinya karena ia mampu mengajarkan ilmu yang ia miliki kepada orang-orang yang lebih berpendidikan daripada nya. Sifat dan sikap yang berbeda setiap orangnya sudah dirasakan semua olehnya.

1,5 tahun sudah Abi bekerja di INRR ini, sampai akhirnya ia mendapatkan tawaran kerja di Perusahaan Eksplorasi Emas di Bengkulu-Sumatera dari seorang Client GIS nya yang Seorang Manager Project di PT. Bengkulu Utara Gold . Kemudian ia pun tidak menyia-nyiakan untuk mengambil kesempatan menggali ilmu di perusahaan tambang yang belum pernah dialami sebelumnya.

Abi pun ditempatkan di Bengkulu. Januari 2012 ia mulai bekerja, dan ia cukup menikmati pekerjaan tersebut dengan Roster kerja 4 minggu kerja 2 minggu istirahat.

Dengan tidak mengganggu waktu kerjanya, waktu istirahatnya pun ia tidak sia-siakan. ia tetap memanfaatkan 2 minggu waktu istirahat itu untuk mengajar. Ketika ada kontak dari client Kursusnya dan dirinya berada pada hari kerja selalu ia menjawab “Ok. Nanti saya kontak kembali ketika saya sudah sampai di Bogor”. Hingga saat ini ia masih sering mendapatkan kontak dari client kursusnya yang kebanyakan dari Jakarta. Ia pun masih meluangkan waktunya untuk mengajar pada 2 minggu waktu istirahatnya tsb.

Salam Sukses selalu buat Abi dan Semuanya.!

Kesimpulan dan pesan moral cerita ini :

“Sikap Berani sangat penting untuk memulai sesuatu”.

“Tetaplah tunjukkan prestasimu walau kadang keadaan tidak seperti yang kalian inginkan”.

“Carilah pengalaman sebanyak-banyaknya karena itu tidak akan dimiliki orang lain”.

“Kembangkan diri, Fokuskan pada keahlian yang kalian miliki, Insya Allah kalian Bisa memetik Buahnya”.

“Turuti, mengerti dan Bahagiakan Orang Tua kalian, Insya Allah kalian akan sukses”.

Sumber gambar : kaskus.us

Bangkai pesawat Sukhoi Superjet 100 akhirnya ditemukan. Penemuan pesawat sendiri pertama kali saat helikopter 3214 milik Lapangan Udara Atang Sanjaya melakukan pantauan udara.

Lokasi pesawat sendiri berada pada ketinggian 5.500 meter di atas permukaan laut dan berada di pinggir tebing Gunung Salak.

“Informasinya melihat sinyal pesawat ada di pinggir tebing, informasi yang kita terima posisinya di pinggir tebing,” ujar Kepala Dinas Penerangan Lanud Atang Sanjaya, Mayor Ali Umri Lubis saat diwawancara Metro TV, Kamis(10/5/2012).

Belum diketahui seperti apa kondisi pesawat Sukhoi, namun yang jelas tim pencari sudah bergerak dan menembus wilayah tersebut.

“Evakuasi yang jelas Tim SAR darat dan udara sudah berbuat, tapi kita akan berusaha dari darat ke posisi yang ditentukan tadi,”pungkasnya.

sumber : tribunnews.com

Tim SAR gabungan TNI-Polri, Pecinta Alam, dan anggota Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS) mulai melakukan pencarian ke wilayah yang diduga menjadi lokasi jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100. Untuk memudahkan pencarian, sebagian tim membangun landasan helikopter di lokasi.

Anggota dibagi dalam empat grup, mereka disebar ke berbagai lokasi untuk menemukan pesawat Sukhoi yang menghilang sejak Rabu (9/5). Tim mulai bergerak sejak pukul 04.00 WIB. Satu tim yang terdiri anggota Marinir TNI AL bertugas membuat helipad di tidak jauh dari Kawah Ratu.

“Kita sudah berangkatkan empat SRU (search rescue unit) ke empat lokasi berbeda. Salah satu SRU membuat landasan untuk helikopter,” ujar Koordinator SAR pencarian pesawat Sukhoi, Ketut Parwa, saat ditemui wartawan di pos Resort Taman Nasional Halimun Salak, Kamis (10/5/2012) pagi.

Ketut menjelaskan, jumlah personel dalam proses pencarian pada hari kedua ini juga lebih banyak dari kemarin. Dari unsur TNI-Polri, jumlah anggota yang diterjunkan dalam pencarian mencapai 1.000 personel.

“Ini belum ditambah dari anggota pecinta alam dan relawan serta masyarakat,” katanya.

Sampai saat ini, lanjut Ketut, pihaknya masih berpatokan pada titik koordinat terakhir pesawat sebelum lost contact dari ATC Bandara Halim Perdanakusuma. “Patokan masih di sekitar Kawah Ratu. Tim juga ada yang bergerak dari Bogor, tepatnya dari Pamijahan,” tutur Ketut.

Seperti diberitakan sebelumnya, pencarian pesawat Shukoi Superjet 100 yang mengangkut 48 orang termasuk awak, dipusatkan di kawasan Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi. Tempat tersebut dipilih setelah Badan SAR Nasional (Basarnas) untuk melakukan pengecekan terakhir sebelum pesawat hilang kontak pada Rabu, sekitar pukul 14.33 WIB.

Titik hilang kontak diperkirakan berada di koordinat 06 43 08 South dan 106 43 15 East atau tepatnya di Kawasan Kawah Ratu yang merupakan perbatasan antara Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor dan Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi.

sumber: detik.com

Pesawat Sukhoi Superjet 100 yang hilang di kawasan Gunung Salak, Bogor, Rabu (9/05/2012) diduga jatuh di kawasan Kawah Ratu, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Hal itu berdasarkan titik koordinat terakhir pukul 14.33 sebelum akhirnya pesawat lost kontak dengan ATC Bandara Halim Perdakusuma.

Kepala SAR Jakarta Ketut Parwa menjelaskan, meskipun titik koordinat terakhir pesawat sudah diketahui, namun pihaknya belum bisa memastikan apakah pesawat berpenumpang 40 orang itu jatuh di posisi tersebut.

“Itu baru dugaan sementara berdasarkan titik koordinat terakhir sebelum akhirnya pesawat hilang dari pantauan ATC Bandara Halim Perdakusuma, ” ujar Ketut Purwa kepada wartawan, Rabu (9/5) di resort Taman Nasional Gunung Halimun-Salak.

Ketut mengatakan, berdasarkan koordinat terakhir posisi hilangnya pesawat berada di kawasan Kawah Ratu, Pamijahan, Kabupaten Bogor. Namun, untuk melakukan evakuasi dan pencarian, akan dilakukan lewat Taman Nasional Gunung Halimun-Salak.

“Kalau lewat Pamijahan, jalurnya berat, makanya kita akan melakukan pencarian melalui Cidahu,” katanya.

Karena medannya yang berat, kata Ketut, proses pencarian akan dilakukan mulai Kamis (10/5) pagi dengan mengerahkan empat helikopter Basarnas.

“Besok pagi (Kamis) kita baru akan melakukan pencarian lewat udara dengan mengerahkan empat helikopter,” tuturnya.

Pantauan Detikcom di resort TNGHS, Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Rabu malam, tim SAR gabungan terdiri dari Basarnas, TNI-Polri, kelompok pecinta alam dan warga setempat terus melakukan koordinasi untuk mengetahui titik jatuhnya pesawat.

Dengan menggunakan peta milik TNGHS, mereka mencari koordinat dan jalur pencarian guna mencapai lokasi yang dicurigai sebagai titik jatuhnya pesawat tersebut.

sumber :detik.com

Warga Desa Tapos I, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor jabar, melihat pesawat yang diduga sebagai Sukhoi Superjet 100 bergerak oleng dan suaranya sangat keras ketika terbang melintas kawasan Gunung Salak tersebut Rabu petang.

“Saya tadi sore melihat pesawat warna putih suaranya keras, dan terlihat agak oleng, sayapnya bergerak naik turun,” kata Edi (60), warga RT 02 RW 04 Desa Tapos I, Rabu malam.

Edi mengatakan bahwa ketika melintas Desa Tapos I pesawat itu terbangnya masih tinggi. Namun suaranya keras.

Ia sendiri tidak tahu jika petang itu ada penerbangan pesawat Sukhoi dengan 42 penumpang yang hilang kontak ketika demo flight di atas wilayah Gunung Salak.

“Di wilayah sini sering juga kami lihat pesawat melintas, tapi kebanyakan helikopter,” katanya.

Sejumlah aparat juga terlihat di Desa Tapos I tersebut, untuk menunggu kabar mengenai lokasi kemungkinan jatuhnya pesawat. Termasuk di antaranya Kapolsek Dramaga, Kompol Pahyuniati.

Di antara masyarakat yang datang, terdapat juga salah seorang kerabat penumpang Sukhoi Superjet 100.

“Saya saudara sepupu dari Insan Kamil, manajer PT IndoAsia yang ikut naik pesawat itu,” kata Erwin (30) sambil membawa foto kerabatnya itu.

Kepada ANTARA, Erwin mengatakan bahwa kebetulan ia tinggal di Bogor, sehingga pihak keluarga Insan Kamil memintanya untuk dapat lebih cepat melihat lokasi jatuhnya pesawat.

Hingga berita ini diturunkan lokasi kemungkinan jatuhnya pesawat belum juga ditemukan.
sumber : antaranews.com

Pesawat Sukhoi Superjet 100 sempat terlihat terbang miring ke kiri dan kanan dengan suara dentuman bak halilintar pada pukul 15.00 WIB di sekitar Kampung Ciangsana, Desa Tapos, Kecamatan Tenjo Laya, Bogor.

Menurut saksi mata, Juanda alias Nono, 41, warga RT 1/04, Kampung Ciangsana, Desa Tapos, Kecamatan Tenjo Laya, ada pesawat yang melintas di sekitar area rumahnya atau tepatnya di sekitar Gunung Salak.

“Saya lagi di depan rumah, lagi ngasih makan ayam. Ada kapal (pesawat,red), lewat arah Gunung Salak. Kita gak tahu. Gak seperti biasanya di kampung kita ada kapal yang besar, biasanya hanya helikopter yang ke arah vila Sutiyoso,”kata Nono.

Nono mengatakan, dia melihat peswat itu sekitar pukul 15.00 WIB. Menurutnya, warna peswat itu berwarna putih dan besar. Pesawat terbang dengan posisi beberapakali miring dan kemudian lurus lagi.

“Ada sekitar 10 kali saya melihat miring terus lurus, miring lagi dan lurus lagi. Saya dengar suaranya kasar dan kayak ngeden. Sekitar 10 menit saya masih dengar, setelah itu hilang. Saya lihat jaraknya tidak terlalu tinggi di atas puncak Gunung Salak,”paparnya.

Saat dirinya melihat pesawat itu, kata Nono, cuaca mendung dan sedikit gerimis. (DD/X-13)

Sumber : mediaindonesia.com

Oleh: palembur | 20 Februari 2012

Kronologi Ambrolnya Jembatan Cihideung

Tim SAR Bogor masih mencari korban jembatan Cihideung, Kecamatan Ciampea Bogor Jawa Barat, yang ambruk, Minggu (19/2/2012). Kala peristiwa terjadi, jembatan hanyut bersama 9 orang yang ada di atasnya.

Para korban yang hanyut itu tengah dalam perjalanan pulang dari acara Maulid Nabi Muhammad SAW di wilayah Kampus Dramaga IPB, Minggu sekitar 10.00 WIB. Saat melintas di atas jembatan bambu itu, warga jatuh ke dalam Sungai Cihideung yang tengah mengalir deras akibat hujan.

Berikut kronologinya;

  • Pukul 09.00, rombongan ibu-ibu dan anak-anak sebanyak 22 orang, warga Desa Cibanteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, pulang dari acara Maulid di Cibanteng. Mereka melanjutkan perjalanan ke Kampus IPB Dramaga (Dermaga) untuk meneruskan menghadiri acara Mauludan, yang ternyata tidak ada. Warga pun pulang.
  • Pukul 10.00, warga menyeberangi jembatan dala dua kelompok. Pada saat kelompok kedua menyeberang, jembatan yang lapuk itu goyang lalu ambruk.
  • Korban terjatuh ke Sungai Cihideung yang mengalir deras. Arus air deras karena kawasan Bogor dan sekitarnya diguyur hujan sejak Sabtu sore. Beberapa korban yang selamat segera mencari pertolongan.
  • Pukul 11.00, warga mulai mencari korban di Sungai Cihideung, dan sebagian lainnya membentuk Posko informasi
  • Pukul 13.00, korban pertama bernama Umamah (45), warga RT 01/RW 03, ditemukan di sungai di dekat Gunung Leutik dalam kondisi meninggal.
  • Pukul 14.00, data korban dapat divalidasi, yakni 14 orang selamat, 7 orang hilang, dan 1 orang ditemukan meninggal.
  • Saat ini tim SAR gabungan masih melakukan pencarian terhadap korban yang diperkirakan hanyut di sungai tersebut. Adapun korban selamat sudah pulang ke rumah masing-masing. Korban selamat pada umumnya mengalami luka ringan, seperti lecet dan shock akibat peristiwa tersebut.
  • Berikut nama-nama korban hanyut yang didata oleh petugas SAR:1. Eka binti Eman (9), warga RT 06/RW 02 Kampung Pabuaran
    2. Rafi bin Eman (5), adik Eka
    3. Ajay bin Engkos (9), warga RT 04/RW 02
    4. Jahra bin Juli (6), warga RT 06/RW 02
    5. Umamah (35), warga Kampung Cibanteng RT 01/RW01 Kampung Cibanteng Proyek
    6. Maesaroh bin Haris, anak Umamah
    7. Tia binti Jamal (10), warga RT 04/RW 02
    8. Dini binti Junaidi (10), warga RT 06/ RW 02

sumber : kompas.com, bobaronline.com

Oleh: palembur | 20 Februari 2012

Jembatan Bambu Ambrol, 1 Tewas, 9 Hanyut

Sepuluh warga Cibanteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (19/2/2012), hanyut terseret arus Sungai Cihideung setelah jembatan bambu yang mereka lintasi ambrol. Seorang sudah ditemukan tewas dan sembilan lainnya masih dicari.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bogor Yous Sudrajat, menuturkan, kejadian itu disebabkan jembatan bambu yang melintasi Sungai Cihideung tidak kuat menahan beban, sehingga ambrol. “Ada 17 warga yang jatuh, tetapi yang hanyut 10 orang. Satu sudah tewas, sembilan masih kami cari,” katanya.

Menurut dia, warga saat itu dalam perjalanan pulang selepas merayakan Maulid. “Kami juga minta bantuan Basarnas dan Brimob karena medannya sulit,” tuturnya.

sumber: kompas.com

Oleh: bobaronline | 10 Februari 2012

PENYANYI GAMBUS DARI KECAMATAN TENJOLAYA

Qasidah adalah musik padang pasir yang bernafaskan islam. Adalah Ibu Lilih Sholihat seorang penyanyi kelahiran Desa Cibitung Tengah Kecamatan TenjolayaBogor, semasa kecilnya senang dengan menyanyikan lagu-lagu Qasidah dan irama padang pasir. “Jika ada acara di kampung pasti Ibu Lilih sering naik panggung dan menyanyikan lagu-lagu Qasidah Nur Asiah Jamil” Kata tetangganya. Memang Nur Asiah Jamil adalah penyanyi favorit dia, sampai suaranya pun mirip Nur Asiah Jamil.
Ibu Lilih Sholihat adalah seorang ibu yang mengelola Lembaga Pendidikan Alhikmah di Cibitung Tengah, dan aktif di pengajian Ibu-ibu tingkat RT sampai kecamatan Tenjolaya. Menyanyi hanyalah hoby dari kecil. Sering dijemput untuk menyanyi di wilayah Bogor oleh beberapa group Orkes Gambus, salah satunya Group Nurshobah yang di pimpin oleh Bapak Arsa Sukarsa. Karena suara bagus maka Group Nurshobah mengajak Rekaman di Jakarta dan Alhamdulillah sekarang sudah mengeluarkan album kompilasi dengan penyanyi gambus lainnya. Ibu lilih menyanyikan tiga lagu dengan judul Siapa Tuhanmu, Bil khoiri dan Ya Malik.

Ya Malik – Lilih Sholihat :: Orkes Gambus Nurshobah

sumber : Bogor Barat Online

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.